Lubang Raksasa di Pondok Balik Terus Meluas, Infrastruktur Terancam

9 hours ago 4

RAKYAT MERDEKA — Fenomena lubang raksasa yang muncul di kawasan Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, kian mengkhawatirkan. Pergerakan tanah yang terjadi hampir setiap hari membuat lubang tersebut semakin melebar dan kini hanya berjarak sekitar 500 meter dari permukiman warga.

Selain memperluas diameter lubang, longsor juga telah memutus akses jalan antar desa di wilayah tersebut. Kondisi ini dinilai sangat berisiko jika tidak segera ditangani secara serius

“Jalan sudah ada yang putus dan ini sangat rawan. Kalau longsor bertambah sekitar 500 meter lagi, bisa masuk ke kawasan permukiman,” ujar Bupati Aceh Tengah Haili Yoga kepada wartawan, Rabu (4/2).

Pemda Minta Tim Ahli dari Pemerintah Pusat

Haili Yoga mengatakan pemerintah daerah telah menyurati Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta pemerintah pusat agar segera menurunkan tim ahli untuk mengkaji fenomena tersebut. Kajian dinilai penting guna mengetahui penyebab pasti longsor dan langkah mitigasi agar lubang tidak terus meluas.

“Pergerakannya ini terjadi setiap hari. Harus ada kajian teknis kenapa longsor terus berulang. Kalau tidak diantisipasi, wilayah ini bisa terbelah dan dampaknya semakin luas,” katanya.

Selain kajian teknis, pemerintah daerah juga berharap adanya dukungan pusat dalam menyiapkan relokasi bagi warga terdampak. Pemindahan infrastruktur vital seperti tiang saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET), jaringan telekomunikasi, serta pembangunan jalur jalan baru yang lebih aman juga menjadi perhatian utama.

Menurut Haili, langkah tersebut diperlukan untuk meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian yang lebih besar apabila longsor terus berlanjut.

Luasan Lubang Meningkat Signifikan

Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, membenarkan bahwa lubang raksasa yang menyerupai sinkhole tersebut terus mengalami perluasan. Berdasarkan data terbaru, luas area terdampak kini mencapai 30.172 meter persegi.

“Pada pemantauan 30 Mei 2022, luas gerakan tanah tercatat sekitar 28.000 meter persegi. Saat ini telah berkembang menjadi 30.172 meter persegi dan sudah mencapai badan jalan utama, serta terus bergerak ke arah tenggara,” jelas Ikhlas.

Ikhlas menerangkan, secara geologi wilayah tersebut tersusun dari batuan vulkanik yang didominasi material tufa dan pasir yang mudah terlepas. Kondisi ini diperparah oleh adanya aliran air bawah tanah yang menggerus lapisan tanah, serta kemiringan tebing yang cukup curam.

“Jika disertai curah hujan tinggi atau getaran akibat gempa bumi, potensi terjadinya gerakan tanah atau longsor akan semakin besar,” ujarnya.

Rekomendasi Keselamatan untuk Warga

Sebagai langkah awal, Dinas ESDM Aceh telah merekomendasikan agar masyarakat menghindari area longsor dan jalan yang terdampak. Pemasangan rambu peringatan rawan longsor juga diminta segera dilakukan.

Untuk pembangunan akses jalan baru, Ikhlas menekankan perlunya kajian geologi teknik terlebih dahulu. Selain itu, penanaman vegetasi penyangga atau pembangunan struktur penguat tebing disarankan jika kondisi memungkinkan, guna meningkatkan stabilitas lereng.

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |