RAKYAT MERDEKA — Situasi dunia kuliner di Singapura memasuki fase yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa bulan terakhir, ratusan gerai makanan terpaksa menutup usaha mereka, menjadikan industri F&B di Negeri Singa berada dalam tekanan besar.
Channel News Asia (CNA) melaporkan bahwa sepanjang tahun 2024, lebih dari 3.000 rumah makan gulung tikar. Rata-rata, sekitar 320 gerai tutup setiap bulannya—angka yang disebut sebagai rekor tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Lonjakan jumlah penutupan ini menunjukkan betapa beratnya pelaku usaha bertahan di tengah persaingan dan biaya operasional yang terus naik.
Dampak Penguatan Dolar Singapura pada Kebiasaan Konsumen
Kenaikan nilai dolar Singapura menjadi salah satu penyebab utama menurunnya omzet para pelaku F&B. Saat mata uang menguat, sebagian warga memilih bepergian ke luar negeri untuk berbelanja atau makan di negara lain yang dianggap lebih murah. Kebiasaan ini tentu menggerus pendapatan restoran lokal, terutama bisnis kecil yang bergantung pada pelanggan harian.
NHK turut mencatat tingginya biaya operasional sebagai faktor lain yang membuat banyak bisnis tidak sanggup bertahan. Harga sewa restoran meningkat hingga 30 persen pada tahun 2023 dan kembali naik pada Oktober berikutnya. Di sisi lain, gaji pekerja F&B juga naik sekitar 10 persen dalam kurun waktu 12 bulan, sementara harga bahan pangan turut merangkak hingga 5 persen.
Cedric Tang, co-owner restoran Ka-Soh, mengungkapkan bahwa kenaikan biaya yang simultan membuat margin keuntungan semakin tipis. Pelaku bisnis yang tidak menyesuaikan strategi harus menghadapi risiko kebangkrutan.
Pertumbuhan Gerai Baru Tetap Signifikan
Meski situasinya berat, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Gan Kim Yong, mencatat adanya 3.357 gerai makanan dan minuman baru dalam 10 bulan terakhir. Fenomena ini dipengaruhi tingginya minat pekerja F&B untuk menjadi pemilik bisnis sendiri.
Namun, para analis mengingatkan bahwa membuka toko baru tidak menjamin keberhasilan. Untuk bisa bertahan dan berkembang, pelaku usaha harus mampu menunjukkan konsistensi, keunikan, serta adaptasi terhadap kondisi pasar yang terus berubah.

5 days ago
18














































