Menit.co.id – Kisah memilukan kembali terungkap dari keluarga prasejahtera di Dumai, Riau. Adnan Hidayat (17), seorang siswa kelas 2 SMA Negeri 2 Dumai, mengaku sempat memiliki niat kuat untuk menghentikan pendidikannya.
Keputusan putus sekolah itu dipicu oleh ketiadaan biaya untuk membeli Lembar Kerja Siswa (LKS) serta perlengkapan sekolah lain yang dibutuhkan.
Adnan merupakan kakak kandung dari Muhammad Aska (6), siswa kelas 2 SDN 10 Jaya Mukti yang beberapa waktu lalu viral di media sosial lantaran mengenakan seragam sekolah yang sudah sangat lusuh dan sobek.
Kondisi ekonomi keluarga mereka yang terpuruk membuat sang ayah, Jarno, tidak berdaya memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya.
Menyikapi kabar memprihatinkan ini, Kapolres Dumai AKBP Angga Febrian Herlambang langsung bergegas mendatangi rumah Jarno yang terletak di Kecamatan Dumai Timur, pada Jumat (6/2/2026).
Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut setelah pihaknya sebelumnya memberikan bantuan seragam kepada adik Adnan, Aska.
“Setelah memberikan bantuan seragam sekolah kepada Aska, rupanya dua orang kakaknya bernasib sama. Jadi kita datang ke rumahnya untuk memberikan bantuan,” ujar Angga kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp pada Jumat.
Saat tiba di lokasi, AKBP Angga menemukan fakta yang jauh lebih menyedihkan. Ternyata, Adnan yang kini duduk di bangku kelas 2 SMA masih mengenakan seragam SMP saat berada di rumah.
Orangtuanya tidak memiliki kemampuan finansial untuk membelikan seragam baru semenjak Adnan lulus jenjang SMP.
Kondisi ekonomi keluarga Jarno lumpuh total karena sang ayah mengalami patah kaki, sehingga ia tidak bisa bekerja dan mencari nafkah.
Sementara itu, istrinya hanya mengandalkan penghasilan serabutan sebagai tukang cuci pakaian untuk menghidupi lima orang anak mereka.
Kemiskinan keluarga ini begitu terasa; saat Kapolres berkunjung, keluarga tersebut hanya sanggup menyajikan menu makan siang berupa sambal dan mi instan untuk dimakan bersama-sama.
“Dia (Adnan) bilang tak ada biaya buat beli buku LKS. Jadi, dia ada niat untuk berhenti sekolah,” ungkap Angga menceritakan pengakuan Adnan di hadapannya dengan nada prihatin.
Menanggapi keluhan Adnan mengenai biaya LKS yang hampir memaksanya keluar dari sekolah, AKBP Angga menegaskan akan melakukan pendalaman serius.
Pasalnya, praktik jual beli LKS di lingkungan sekolah merupakan hal yang dilarang keras dan merugikan siswa.
“Saya cek dulu di Disdik (Dinas Pendidikan). Saya dalami ya,” tegas Angga.
Sebagai wujud kepedulian sosial, Kapolres Dumai membawakan bantuan perlengkapan sekolah lengkap untuk tiga anak Jarno yang masih bersekolah. Bantuan tersebut mencakup seragam, tas, buku, sepatu, hingga jilbab.
Tak hanya itu, untuk meringankan beban hidup sehari-hari, bantuan sembako berupa beras sebanyak 30 kg, telur, minyak goreng, susu bubuk, sarden, hingga roti kaleng juga diserahkan agar keluarga tersebut tidak lagi hanya bergantung pada mi instan untuk makan.
Angga juga memberikan bantuan uang tunai serta pengisian token listrik untuk rumah mereka.
“Semoga dengan bantuan ini, mereka bisa sekolah dengan nyaman dan semangat belajar. Kita harap bantuan ini dapat meringankan beban keluarga Pak Jarno,” pungkas Angga.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

11 hours ago
4
















































