Menit.co.id – Pasar kripto kembali diguncang volatilitas ekstrem. Berdasarkan data terbaru CoinDesk, Bitcoin (BTC) sempat terperosok ke bawah level US$63.000 pada sesi perdagangan siang hari di Amerika Serikat, atau dini hari 6 Februari waktu Vietnam. Capaian ini menjadi titik terendah sejak Oktober 2024 dan menandai kemerosotan tajam dari reli sebelumnya.
Kondisi tersebut semakin menekan sentimen pasar karena berarti harga Bitcoin telah terpangkas hampir 50% dari rekor tertingginya di kisaran US$126.000 yang tercatat pada Oktober tahun lalu. Tekanan jual masif memicu kekhawatiran bahwa fase koreksi kali ini bukan sekadar penurunan sementara.
Pergerakan pada 5 Februari waktu AS bahkan mencatatkan rekor yang tidak diinginkan. Bitcoin mengalami penurunan harian terdalam sejak runtuhnya bursa FTX pada November 2022. Saat itu, krisis FTX menyeret BTC jatuh 14,3% hanya dalam satu hari. Kini, dengan penurunan lebih dari 10% dalam kurun 24 jam, trauma lama kembali membayangi para pelaku pasar.
Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin melemah lebih dari 10% dan bergerak di area US$63.000, mendekati skenario penurunan satu hari terburuk sejak krisis FTX. Tekanan ini mempertegas rapuhnya kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global.
Dampaknya tidak berhenti di pasar kripto. Efek berantai menjalar ke berbagai kelas aset. Harga perak ambruk hingga 14% dalam sehari dan kini berada hampir 40% di bawah puncaknya pekan lalu. Bahkan emas, yang selama ini dipandang sebagai aset lindung nilai, ikut tertekan dengan koreksi lebih dari 2% ke sekitar US$4.850 per ons.
Di bursa saham AS, gelombang aksi jual melanda saham-saham teknologi dan perusahaan yang terkait langsung dengan kripto. Saham Coinbase, MicroStrategy, serta perusahaan penambangan seperti Marathon Digital sama-sama tertekan lebih dari 10%, mencerminkan kepanikan yang meluas di pasar keuangan.
Runtuhnya Narasi “Emas Digital” dan Bayang-Bayang Teori Big Short
Pertanyaan besar pun muncul: mengapa Bitcoin jatuh sedalam ini di tengah meningkatnya ketegangan global?
Analisis CNN menyoroti bahwa Bitcoin mulai kehilangan citranya sebagai “emas digital” yang selama ini dielu-elukan pendukungnya. Memasuki 2026, dunia dihadapkan pada eskalasi geopolitik, mulai dari pernyataan keras Gedung Putih terhadap Iran dan Venezuela hingga konflik dagang dengan negara sekutu. Secara teori, kondisi ini seharusnya menjadi katalis positif bagi Bitcoin.
Namun realitas berkata lain. Arus dana justru keluar dari kripto dan bergerak menuju emas fisik. Meski emas sempat terkoreksi dalam jangka pendek, logam mulia tersebut masih mencatat kenaikan sekitar 24% sejak Oktober. Perbedaan arah ini menegaskan bahwa harga Bitcoin masih bergerak layaknya aset berisiko, bukan instrumen pelindung nilai.
Investor legendaris Michael Burry, yang dikenal lewat film The Big Short, turut menyoroti dinamika ini melalui tulisannya di Substack. Ia menilai lonjakan volatilitas emas dan perak belakangan ini kemungkinan dipicu oleh spekulan kripto yang terpaksa melepas kepemilikan logam mulia untuk menutup kerugian besar di portofolio Bitcoin.
Faktor likuiditas juga memperparah situasi. Adrian Fritz, Chief Strategy Officer 21Shares, mengatakan kepada CoinDesk bahwa kondisi likuiditas pasar saat ini “sangat tipis.” Dalam keadaan seperti ini, tekanan jual yang relatif kecil saja dapat memicu rangkaian likuidasi otomatis dan menyeret harga turun lebih dalam.
Koreksi tajam ini sekaligus menghapus apa yang dikenal sebagai “Trump Bump”, yakni lonjakan pasar pasca kemenangan Donald Trump dalam pemilu presiden AS akhir 2024. Optimisme terhadap kebijakan pro-kripto memudar setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan di hadapan Kongres bahwa pemerintah tidak memiliki kewenangan untuk menstabilkan pasar kripto.
Mencari Dasar Harga di Tengah “Musim Dingin” Februari
Di kalangan investor ritel, kepanikan mulai berubah menjadi perburuan jawaban: di mana titik terendah berikutnya? Apakah ini momentum untuk membeli saat harga jatuh, atau justru jebakan berisiko tinggi?
Para analis cenderung berhati-hati. Adrian Fritz menegaskan bahwa belum ada indikasi kuat pasar telah mencapai dasar. “Masih terlalu dini untuk berbicara tentang pembalikan tren yang jelas,” ujarnya.
Dari sisi teknikal, perhatian tertuju pada rata-rata pergerakan 200 hari (MA200) di kisaran US$58.000–US$60.000 yang dianggap sebagai level support krusial. Area ini juga dipandang sebagai zona harga rata-rata pasar. Jika level tersebut jebol, skenario penurunan berkepanjangan seperti tahun 2018 atau 2022 berpotensi terulang, menekan harga Bitcoin lebih dalam lagi.
Kondisi altcoin bahkan dinilai lebih rentan. XRP tercatat merosot hingga 19% hanya dalam sehari. Analisis teknikal menunjukkan aset ini nyaris tidak memiliki zona support signifikan dalam jangka pendek.
Sejarah kripto dipenuhi episode kehancuran besar, mulai dari Mt. Gox pada 2014, gelembung ICO 2018, hingga krisis FTX pada 2022. Meski pasar selalu bangkit setelah setiap krisis, situasi saat ini—dengan kepercayaan yang tergerus dan melemahnya aliran modal institusional—menuntut kehati-hatian ekstra. Investor disarankan menimbang risiko secara matang sebelum mengambil keputusan spekulatif di tengah badai volatilitas yang belum mereda.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

1 week ago
10

















































