RAKYAT MERDEKA — Setelah menjadi korban penyiraman air keras, kondisi kesehatan aktivis HAM Andrie Yunus masih menjadi perhatian publik. Sampai saat ini, ia diketahui masih menjalani perawatan intensif dan serangkaian tindakan medis lanjutan untuk memulihkan kondisinya.
Informasi terbaru ini disampaikan oleh Fatia Maulidiyanti dari Tim Advokasi untuk Demokrasi. Ia mengatakan bahwa Andrie sudah menjalani sedikitnya lima kali operasi, yang sebagian besar difokuskan pada penanganan luka bakar serius di bagian kulit dan mata.
Fatia menjelaskan, salah satu prosedur utama yang telah dilakukan adalah operasi cangkok kulit (skin graft). Proses ini melibatkan pemindahan jaringan kulit dari bagian tubuh lain untuk menutup area yang mengalami kerusakan parah.
Kulit yang digunakan diambil dari bagian paha yang kemudian dicangkokkan ke beberapa area tubuh Andrie, seperti dada, leher, dan lengan. Prosedur ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan sekaligus mengurangi risiko infeksi akibat luka bakar.
Walaupun sudah melalui beberapa tahap operasi, proses penyembuhan diperkirakan masih akan berlangsung cukup lama.
Pengobatan Masih Berlanjut
Fatia menjelaskan bahwa Andrie masih harus menjalani perawatan medis dalam beberapa bulan ke depan. Tim dokter juga telah merencanakan tindakan lanjutan, termasuk operasi pada bagian mata.

Jika tidak ada perubahan jadwal, operasi mata tersebut diperkirakan akan dilakukan sekitar empat bulan mendatang. Prosedur ini menjadi krusial karena berkaitan langsung dengan kemampuan penglihatan korban.
Kondisi mata kanan Andrie menjadi salah satu perhatian utama. Paparan air keras dengan tingkat keasaman tinggi menyebabkan kerusakan serius pada bola mata.
Akibatnya, Andrie kini terancam kehilangan penglihatan di mata kanan. Upaya medis yang dilakukan bertujuan untuk memulihkan fungsi mata, termasuk kemungkinan tindakan cangkok.
Tim advokasi berharap proses pemulihan dapat berjalan dengan baik sehingga Andrie memiliki peluang untuk kembali melihat.
Kronologi Singkat
Peristiwa penyiraman air keras yang menimpa Andrie terjadi pada pertengahan Maret lalu. Kejadian tersebut langsung mendapat perhatian luas sebab melibatkan aktivis yang aktif dalam isu hak asasi manusia.
Usai kejadian, aparat dari Pusat Polisi Militer TNI bergerak cepat dengan mengamankan empat orang yang diduga sebagai pelaku. Mereka diketahui berasal dari Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI dari unsur Angkatan Laut dan Angkatan Udara.
Pihak TNI sendiri telah menyelesaikan proses penyidikan terhadap keempat tersangka. Selanjutnya, berkas perkara beserta barang bukti telah dilimpahkan ke Oditur Militer II-07 Jakarta.
Dalam tahap berikutnya, berkas tersebut akan diperiksa oleh jaksa militer. Jika dinyatakan lengkap, para tersangka akan segera menjalani proses persidangan di pengadilan militer.
Harapan Pemulihan dan Keadilan
Kasus ini tidak hanya menyoroti kondisi kesehatan korban, tetapi juga menimbulkan perhatian terhadap proses penegakan hukum. Publik berharap pelaku dapat diproses secara transparan dan adil.
Di sisi lain, dukungan terus mengalir bagi Andrie agar dapat melewati masa pemulihan dengan baik. Perjalanan penyembuhan yang panjang membutuhkan perhatian medis intensif serta dukungan dari berbagai pihak.
Dengan upaya yang maksimal, diharapkan kondisi Andrie dapat berangsur membaik dan ia dapat kembali menjalani aktivitasnya seperti sedia kala.

6 hours ago
1










































