Menit.co.id – Nama Mojtaba Khamenei telah lama menjadi topik pembicaraan di kalangan pengamat politik Iran, meski jarang sekali muncul di depan publik.
Ulama yang dikenal tertutup ini berhasil mencuri perhatian dunia ketika namanya resmi diumumkan sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran.
Selama bertahun-tahun, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai sosok yang bekerja di balik layar, tetapi pengaruhnya diyakini sudah lama terasa dalam setiap keputusan strategis pemerintahan ayahnya, Ali Khamenei.
Jarang tampil di depan media, banyak warga Iran bahkan mengaku belum pernah mendengar suara Mojtaba Khamenei secara langsung.
Meski demikian, pengaruhnya di lingkar kekuasaan Iran sulit diabaikan. Kini, dengan penunjukan resmi sebagai pemimpin tertinggi, ia memegang kendali penuh atas arah politik, militer, dan kebijakan strategis negara.
Penunjukan ini dilakukan oleh Majelis Ahli Iran, lembaga yang memiliki otoritas menentukan siapa yang berhak menjadi pemimpin tertinggi Republik Islam.
“Dengan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” demikian pernyataan resmi Majelis Ahli yang dirilis tengah malam waktu Teheran, dikutip dari AFP.
Dengan posisi baru ini, Mojtaba Khamenei kini memiliki kewenangan luas, dari pengambilan keputusan strategis hingga kontrol penuh atas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Meski demikian, bagi sebagian pengamat, identitas dan agenda politiknya masih menyisakan banyak misteri karena selama ini ia dikenal lebih suka bergerak di balik layar.
Profil Ayatollah Mojtaba Khamenei
Menurut laporan Al Jazeera, Mojtaba Khamenei tidak pernah mengikuti pemilihan publik maupun mencalonkan diri untuk jabatan politik formal.
Namun, pengaruhnya di lingkaran elite politik Iran telah terasa selama puluhan tahun, terutama di sekitar Ayatollah Ali Khamenei. Ia juga dikenal memiliki hubungan dekat dengan IRGC, yang memperkuat posisinya dalam struktur kekuasaan teokratis Iran.
Naiknya Mojtaba Khamenei ke puncak kekuasaan dianggap sebagai sinyal bahwa faksi garis keras tetap memegang kendali penuh atas pemerintahan, sekaligus menutup peluang negosiasi dengan Barat dalam waktu dekat.
Karakternya yang tertutup—tidak pernah berpidato, memberikan khutbah Jumat, atau kuliah umum—membuat sebagian warga Iran belum pernah mendengar suaranya secara langsung.
Nama Mojtaba Khamenei juga tidak lepas dari kontroversi. Selama hampir dua dekade, ia sering dikaitkan dengan penindasan terhadap gerakan protes di Iran.
Kubu reformis menuduhnya mencampuri pemilu dan menggunakan pasukan Basij untuk menindak demonstran Gerakan Hijau 2009, yang muncul pasca-kontroversi pemilihan kembali Mahmoud Ahmadinejad.
Sejak itu, Basij menjadi ujung tombak penindakan terhadap protes nasional, termasuk aksi dua bulan lalu yang menewaskan ribuan orang menurut laporan PBB.
Kedekatan dengan IRGC dan Kekayaan Tersembunyi
Kedekatan Mojtaba Khamenei dengan IRGC dimulai sejak muda, ketika ia bertugas di Batalyon Habib selama Perang Iran-Irak tahun 1980-an.
Rekannya yang juga ulama kemudian menempati posisi penting dalam intelijen dan aparat keamanan. Selain itu, ia diduga memiliki jaringan ekonomi yang luas di berbagai negara, meski namanya jarang muncul dalam transaksi publik.
Laporan media Barat menyebutkan bahwa ia memindahkan miliaran dolar melalui jaringan orang dalam pemerintah Iran.
Bloomberg menyoroti hubungan Mojtaba dengan Ali Ansari, yang mengalami pembubaran paksa Bank Ayandeh akibat pinjaman bermasalah.
Peristiwa ini memicu inflasi di Iran, memperburuk kondisi ekonomi rakyat. Kedua pihak belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan ini, termasuk soal kepemilikan properti mewah di Eropa.
Selain kontroversi finansial, kredibilitas keagamaan Mojtaba juga menjadi perdebatan. Ia masih berstatus hojatoleslam, ulama tingkat menengah, bukan ayatollah senior.
Namun, sejarah menunjukkan ayahnya Ali Khamenei pun bukan ayatollah saat menjadi pemimpin, sehingga penyesuaian hukum untuk mengakomodasi Mojtaba mungkin bisa terjadi.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

13 hours ago
29

















































