TNI Gugur di UNIFIL, AS Ucapkan Belasungkawa

5 hours ago 2

RAKYAT MERDEKA — Dukungan dan empati internasional mengalir bagi Indonesia setelah gugurnya prajurit TNI yang tengah menjalankan misi perdamaian dunia. Amerika Serikat turut menyampaikan belasungkawa secara resmi atas insiden tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, ketika menerima kunjungan Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, di Pentagon, Senin (13/4).

Dalam pertemuan tersebut, Hegseth menyampaikan rasa simpati mendalam atas wafatnya tiga prajurit Indonesia yang bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.

Kerja Sama Militer Jadi Sorotan

Selain menyampaikan duka cita, pertemuan kedua pejabat juga membahas berbagai kerja sama strategis di bidang pertahanan. Salah satu yang disorot adalah intensitas latihan militer antara Indonesia dan Amerika Serikat yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Hegseth mengatakan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya terbatas pada kerja sama modern, tetapi juga memiliki sejarah panjang sejak masa Perang Dunia II.

Ia mengapresiasi peran Indonesia dalam membantu pencarian serta pemulangan jenazah prajurit Amerika yang gugur atau hilang pada masa perang tersebut.

Sementara itu, Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa kunjungannya ke Pentagon bertujuan untuk memperkuat hubungan bilateral yang telah terjalin lama.

Ia menilai kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat memiliki peran penting bagi stabilitas kawasan, sekaligus untuk kepentingan jangka panjang kedua negara.

Menurutnya, hubungan ini diharapkan terus berkembang dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Kronologi Gugurnya Prajurit TNI

Insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI terjadi pada akhir Maret 2026 di wilayah Lebanon, di tengah meningkatnya ketegangan konflik antara Israel Defense Forces dan kelompok Hizbullah.

Pada 29 Maret, Farizal Rhomadon gugur setelah terkena proyektil di dekat pos UNIFIL. Sehari kemudian, dua prajurit lainnya, Zulmi Aditya Iskandar dan Muhammad Nur Ichwan, juga meninggal dunia akibat ledakan terpisah.

Menurut keterangan dari juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, temuan awal menunjukkan bahwa insiden pertama disebabkan oleh proyektil tank kaliber 120 mm.

Proyektil tersebut diduga berasal dari tank Merkava milik militer Israel yang ditembakkan dari arah timur menuju area Ett Taibe, lokasi dekat pos penjaga perdamaian.

Sementara itu, insiden kedua yang terjadi pada 30 Maret diduga berasal dari perangkat peledak rakitan (IED) yang dikaitkan dengan kelompok Hizbullah.

Risiko Tinggi Misi Perdamaian

Peristiwa ini kembali menegaskan tingginya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian PBB di wilayah konflik. Meski bertugas menjaga stabilitas dan perdamaian, mereka tetap berada di garis depan situasi berbahaya.

Gugurnya tiga prajurit TNI menjadi pengingat bahwa kontribusi Indonesia dalam misi internasional tidak lepas dari pengorbanan besar.

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |