Shalat Tarawih Berapa Rakaat? Ini Perbedaan Muhammadiyah dan NU yang Perlu Dipahami

22 hours ago 7
Shalat Tarawih Berapa Rakaat

Menit.co.id – Memasuki bulan suci Ramadan, pertanyaan klasik kembali mengemuka di tengah umat Islam: shalat tarawih berapa rakaat yang sesuai dengan sunnah?

Perbedaan praktik antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) kerap menjadi bahan diskusi. Sebagian melaksanakan 11 rakaat, sementara yang lain menjalankan 23 rakaat. Lalu, sebenarnya shalat tarawih berapa rakaat yang benar menurut dalil?

Perbedaan jumlah rakaat ini sejatinya mencerminkan kekayaan khazanah fikih Islam. Muhammadiyah menetapkan 11 rakaat, sedangkan NU umumnya melaksanakan 23 rakaat.

Keduanya memiliki landasan dalil yang kuat dan telah diamalkan secara luas oleh umat Islam di Indonesia.

Muhammadiyah: 11 Rakaat Mengikuti Praktik Nabi

Muhammadiyah menetapkan shalat tarawih sebanyak 11 rakaat, yang terdiri dari 8 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Pandangan ini didasarkan pada hadis riwayat Aisyah r.a. yang termaktub dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.

Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah menambah shalat malam, baik pada bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, lebih dari sebelas rakaat. Muhammadiyah memahami bahwa tarawih merupakan bagian dari qiyamul lail (shalat malam), sehingga jumlah rakaatnya mengikuti praktik Rasulullah secara langsung.

Berdasarkan pendekatan ini, jawaban atas pertanyaan shalat tarawih berapa rakaat menurut Muhammadiyah adalah 11 rakaat, dengan penekanan pada kesesuaian terhadap riwayat yang sahih.

NU: 23 Rakaat Mengikuti Praktik Sahabat

Di sisi lain, NU pada umumnya melaksanakan 23 rakaat, terdiri dari 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Landasan utamanya merujuk pada praktik para sahabat pada masa khalifah Umar bin Khattab yang mengumpulkan kaum Muslimin untuk melaksanakan tarawih berjamaah sebanyak 20 rakaat.

Riwayat mengenai praktik ini tercantum dalam kitab Al-Muwatta karya Imam Malik. Selain itu, terdapat hadis dalam Sunan Abu Dawud yang menganjurkan umat Islam untuk mengikuti sunnah Nabi dan sunnah Khulafaur Rasyidin setelah beliau.

NU memandang praktik tersebut sebagai bagian dari sunnah Khulafaur Rasyidin yang diperkuat oleh kesepakatan para sahabat (ijma’). Pendapat ini juga selaras dengan mayoritas ulama mazhab, khususnya mazhab Syafi’i yang banyak dianut umat Islam di Indonesia.

Perbedaan Ijtihad, Bukan Soal Benar atau Salah

Perbedaan jumlah rakaat tarawih antara Muhammadiyah dan NU bukanlah persoalan siapa yang paling benar, melainkan perbedaan metode dalam berijtihad. Muhammadiyah lebih menitikberatkan pada praktik Nabi berdasarkan hadis sahih, sedangkan NU menekankan praktik sahabat serta tradisi mazhab fikih yang berkembang dalam sejarah Islam.

Dalam tradisi keilmuan Islam, perbedaan seperti ini termasuk ranah khilafiyah yang dibenarkan. Karena itu, ketika muncul pertanyaan shalat tarawih berapa rakaat, jawabannya bergantung pada pendekatan dalil yang diikuti.

Yang terpenting, umat Islam dapat menjalankan salah satu pendapat dengan tetap menjaga persaudaraan dan saling menghormati. Ramadan sejatinya menjadi momentum mempererat ukhuwah, bukan memperdebatkan perbedaan yang telah lama diakui dalam khazanah fikih.

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |