Menit.co.id – Di balik sengitnya persaingan MotoGP modern, Casey Stoner membeberkan alasan mendasar mengapa Marc Marquez tetap menjadi sosok yang sulit ditaklukkan.
Bagi Casey Stoner, keunggulan sang rival bukan semata soal kecepatan di lintasan, melainkan kombinasi kecerdasan balap, kontrol motor, dan kematangan strategi yang jarang dimiliki pembalap lain.
Sebagai mantan juara dunia, Casey Stoner memahami betul bahwa talenta saja tidak cukup untuk mendominasi MotoGP.
Ia menilai banyak rider mampu mencatat waktu cepat, tetapi tidak semuanya piawai membaca dinamika balapan secara menyeluruh. Dalam pandangannya, kemampuan Marc Marquez mengatur tempo dan menentukan momen serangan menjadi pembeda utama.
Dalam wawancara yang dikutip dari Crash.net, Casey Stoner menegaskan bahwa tidak ada yang meragukan bakat alami maupun agresivitas Marquez.
Namun, yang membuatnya unggul adalah cara ia memaksimalkan race craft di setiap fase lomba. Marquez dinilai sangat cermat mengamati situasi, memahami kelemahan lawan, serta memanfaatkan peluang sekecil apa pun.
Perubahan mentalitas Marquez juga tak luput dari perhatian. Setelah meraih gelar dunia terakhirnya pada 2019 bersama Repsol Honda Team, ia mengalami cedera panjang pada musim 2020 yang memengaruhi performanya. Masa sulit tersebut akhirnya membuatnya mengakhiri kebersamaan lebih dari satu dekade dengan Honda.
Kebangkitan dimulai saat ia bergabung dengan Gresini Racing sebelum kemudian direkrut oleh Ducati Lenovo Team. Menurut Casey Stoner, periode penuh tantangan itu justru membentuk karakter baru dalam diri Marquez—lebih sabar, lebih taktis, dan lebih selektif dalam mengambil risiko.
Kini, Marquez tidak lagi hanya mengandalkan keberanian ekstrem seperti era awal 2010-an. Ia lebih terukur dalam membangun ritme, terutama dalam mengelola kondisi ban. Stoner menilai aspek ini kerap luput dari sorotan publik, padahal sangat krusial dalam menentukan hasil akhir balapan.
Marquez disebut cenderung menahan diri pada lap-lap awal, menjaga degradasi ban agar tetap stabil. Strategi tersebut memberinya keuntungan signifikan di fase akhir ketika banyak rival mulai kehilangan grip.
Pendekatan ini bahkan dibandingkan dengan strategi manajemen ban di Formula 1, seperti yang kerap diperagakan oleh Max Verstappen dalam menjaga performa sepanjang stint.
Selain itu, Casey Stoner menilai kelebihan lain Marquez terletak pada kemampuannya mengendalikan motor tanpa terlalu bergantung pada perangkat elektronik.
Di era modern, sebagian besar pembalap sangat mengandalkan sistem elektronik untuk mengontrol traksi dan slip ban. Namun, Marquez dinilai memiliki sensitivitas alami terhadap batas grip ban.
Dengan kontrol yang lebih halus dan presisi, elektronik justru bekerja semakin optimal ketika daya cengkeram mulai menurun. Kombinasi antara insting, teknik, dan dukungan teknis inilah yang membuat performanya tetap konsisten hingga lap terakhir.
Casey Stoner melihat transformasi signifikan dalam gaya balap Marquez. Jika dulu identik dengan manuver agresif berisiko tinggi, kini ia tampil lebih matang dan strategis.
Perpaduan kecerdasan membaca lomba, kesabaran menjaga ban, serta keahlian teknis mengontrol motor menjadikan Marquez salah satu paket pembalap paling komplet di grid MotoGP saat ini.
Menurut Casey Stoner, evolusi tersebut menjelaskan mengapa Marquez tetap menjadi ancaman serius dalam perebutan gelar juara dunia dan alasan kuat mengapa ia masih sangat sulit dikalahkan para pesaingnya.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

17 hours ago
4

















































