Teuku Markam, Dermawan Aceh yang Sumbang 28 Kg Emas untuk Puncak Monas

16 hours ago 6
Teuku Markam Dermawan Aceh

Menit.co.id – Sejarah pembangunan Monumen Nasional (Monas) Jakarta tidak lepas dari kisah para dermawan yang ikut mendukung proyek ikonik ini.

Salah satu sosok yang paling menonjol adalah Teuku Markam, pengusaha Aceh yang berani menyumbangkan 28 kilogram emas murni untuk melapisi puncak Monas.

Monas, yang berdiri setinggi 132 meter di Jakarta Pusat, mulai dibangun pada 1961 dan sempat terbengkalai antara 1966–1972 karena pergantian rezim pemerintahan.

Dari total 35 kilogram emas yang dibutuhkan untuk obor ikonik di puncak tugu, sumbangan Markam mencapai 28 kilogram, menjadikannya salah satu penyumbang terbesar proyek tersebut.

Profil dan Karier Teuku Markam

Teuku Markam lahir pada 1925 di Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu, Aceh Utara. Bernama asli Teuku Marhaban, ia berasal dari keluarga Uleebalang Aceh.

Awalnya berkarier di militer, ia memutuskan beralih menjadi pengusaha dan mendirikan PT Markam.

Kedekatannya dengan Presiden Soekarno membuatnya sering terlibat dalam proyek-proyek strategis negara, termasuk pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa.

Selain sumbangan emasnya, dana pembangunan Monas juga dihimpun dari pengusaha bioskop di seluruh Indonesia, mulai dari Parepare hingga Banjarmasin, dengan nominal bervariasi.

Nasib Tragis Teuku Markam

Nasib Teuku Markam berubah drastis setelah rezim Orde Baru mengambil alih kekuasaan pada 1966. Ia dituduh terlibat pemberontakan PKI dan dianggap sebagai Soekarnois garis keras.

Tanpa proses pengadilan, Markam dipenjara di berbagai tahanan, termasuk Budi Utomo, Guntur, Salemba, Cipinang, dan Nirbaya.

Selain penahanan, pemerintah mengambil alih aset PT Markam, yang kemudian menjadi cikal bakal PT Berdikari (Persero), salah satu BUMN yang masih beroperasi hingga kini.

Pengambilalihan resmi dilakukan melalui Keppres Nomor 31 Tahun 1974 dengan nilai aset Rp 411.314.924 sebagai modal negara.

Markam dibebaskan pada 1974, namun kesehatan dan kehidupannya tetap terganggu akibat pengalaman penjara dan kehilangan aset. Ia meninggal pada 1985 di Jakarta akibat komplikasi penyakit.

Kisah Teuku Markam menjadi pengingat akan peran para dermawan dalam pembangunan Monas sekaligus sisi tragis sejarah politik Indonesia pasca-peralihan kekuasaan. [kompas]

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |