Waspada! Kasus Nipah Virus Outbreak di India Meningkat, Kemenkes Imbau Hal Ini

6 days ago 21
Nipah Virus Outbreak

Menit.co.id – Kasus Nipah Virus Outbreak kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah India melaporkan adanya penularan virus yang mengkhawatirkan di wilayah negara bagian West Bengal.

Kondisi ini bermula dari dua tenaga kesehatan yang terinfeksi, kemudian virus tersebut menyebar ke beberapa orang lain, sehingga memaksa sekitar 100 orang yang teridentifikasi sebagai kontak erat untuk menjalani karantina ketat.

Situasi ini tentu memicu kekhawatiran di kalangan publik. Namun demikian, para pakar kesehatan menegaskan bahwa risiko virus Nipah untuk meledak menjadi pandemi global masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan virus pernapasan.

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menekankan bahwa karakter penularan virus Nipah memiliki perbedaan mendasar dengan virus-virus pernapasan seperti SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

“Secara global, potensi Nipah Virus Outbreak menjadi pandemi itu tetap rendah dibandingkan penyakit saluran pernapasan seperti COVID-19,” kata Dicky dalam keterangan resminya seperti dikutip dari Liputan6.com, Kamis, 29 Januari 2026.

Secara ilmiah, Virus Nipah diklasifikasikan sebagai penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh virus dari genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Hewan yang menjadi reservoir alami utama virus ini adalah kelelawar buah (fruit bat).

Penularan dari hewan ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung, atau melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi urine maupun air liur kelelawar, seperti buah-buahan segar atau nira kelapa.

Menurut penjelasan Dicky, meskipun penularan antar manusia memang bisa terjadi, tetapi mekanismenya membutuhkan kontak yang sangat dekat dengan cairan tubuh penderita.

“Penularan virus Nipah antar manusia harus melalui kontak dekat dengan cairan tubuh seperti droplet pernapasan, darah, atau urine. Jadi transmisinya masih sangat rendah,” ujarnya.

Fakta inilah yang menjelaskan mengapa wabah virus Nipah sejauh ini cenderung bersifat klaster lokal dan terkendali, bukan menyebar luas lintas wilayah secara masif seperti yang terjadi pada pandemi COVID-19.

Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi virus ini bervariasi. Pada fase awal, pasien umumnya akan mengalami demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri otot, dan keluhan yang mirip dengan penyakit flu biasa.

Namun, pada fase lanjut, kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat ditandai dengan gangguan pernapasan hingga gangguan saraf yang serius.

“Pasien bisa mengalami pneumonia, gangguan neurologis, bahkan radang otak atau ensefalitis yang menyebabkan kejang, kebingungan, sampai koma,” tambah Dicky mengingatkan.

Angka kematian atau mortality rate akibat virus Nipah tergolong sangat tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen pada kasus-kasus berat yang tidak mendapatkan penanganan maksimal.

Sementara itu, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa hingga saat ini dunia medis belum memiliki vaksin maupun obat spesifik yang efektif untuk mengatasi virus Nipah.

Oleh karena itu, langkah pencegahan menjadi kunci utama untuk melindungi masyarakat.

“Kita perlu waspada karena virus Nipah masuk dalam prioritas penelitian WHO sejak 2018, dan saat ini telah terbukti terjadi penularan antar manusia di India,” kata Tjandra Yoga kepada Health Liputan6.com melalui aplikasi pesan singkat.

Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus Nipah Virus Outbreak di India, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) turut mengambil langkah antisipasi. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati, khususnya dalam hal konsumsi buah-buahan.

“Tidak mengonsumsi buah dengan bekas gigitan kelelawar,” demikian keterangan pers yang disampaikan oleh Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, pada Selasa, 27 Januari 2026.

Tjandra Yoga juga menilai bahwa Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan di pintu masuk, mengingat tingginya mobilitas internasional yang terjadi saat ini.

“Koordinasi dengan WHO dan penguatan deteksi dini sangat penting, termasuk peran Indonesia dalam asesmen risiko kawasan,” tambahnya.

Meski risiko penyebarannya menjadi pandemi global dinilai rendah oleh para ahli, namun kejadian Nipah Virus Outbreak ini tetap menjadi pengingat keras bahwa ancaman penyakit zoonotik itu nyata.

Dibutuhkan kesiapsiagaan berkelanjutan dari seluruh elemen, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk mencegah potensi penularan yang lebih luas.

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |