Bertemu Presiden Prabowo, 16 Ormas Islam Sepakat Kawal Perjuangan Kemerdekaan Palestina

15 hours ago 4

Menit.co.id – Upaya diplomasi Indonesia dalam membela kemerdekaan Palestina kembali menunjukkan momentum yang sangat positif.

Belum lama ini, sebanyak 16 Ormas Islam bersama sejumlah pimpinan pondok pesantren dari Jawa Timur dan Jawa Barat menyatakan sikap tegas mereka.

Mereka menegaskan dukungan penuh terhadap langkah strategis yang diambil pemerintah dalam memperjuangkan hak kemerdekaan bangsa Palestina di kancah internasional.

Pernyataan sikap ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, melainkan hasil dari pertemuan intensif dan tertutup antara para tokoh agama dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, menjadi juru bicara utama yang menyampaikan hasil pertemuan tersebut kepada publik.

Ia menjelaskan bahwa pertemuan itu berhasil memberikan pandangan komprehensif mengenai arah diplomasi dan strategi internasional yang sedang dan akan dijalankan oleh Indonesia.

Tiga Pilar Kesepakatan Politik dan Kemanusiaan

Dalam keterangannya kepada awak media pada Rabu (4/2/2026), Gus Yahya memaparkan bahwa terdapat tiga tataran kesepakatan fundamental yang berhasil dicapai antara para tokoh Ormas dan pemerintah. Kesepakatan ini menjadi pondasi kuat bagi sinergi ke depan.

“Pada tataran nilai, semuanya sepakat menolak penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan bagi semua bangsa, sesuai amanat proklamasi. Kemudian pada tataran prinsip, semua menyetujui bahwa Indonesia harus membantu, membela, dan memperjuangkan Palestina hingga merdeka,” ujar Gus Yahya dengan tegas.

Pernyataan ini menegaskan bahwa posisi 16 Ormas Islam selaras dengan kebijakan luar negeri bebas aktif Indonesia yang berpihak pada keadilan dan kemanusiaan.

Tidak hanya soal kepentingan politik, dukungan ini kental dengan nuansa kemanusiaan dan solidaritas antarbangsa yang menjadi nilai inti bagi bangsa Indonesia.

Strategi Diplomasi dan Keterlibatan dalam Board of Peace

Salah satu poin krusial yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah mengenai peran Indonesia dalam inisiatif internasional yang digagas oleh Amerika Serikat, yakni Board of Peace atau Dewan Perdamaian.

Isu ini memang sedang hangat diperbincangkan di kalangan analis global mengingat mekanisme baru yang ditawarkan di luar PBB.

Gus Yahya menegaskan bahwa Presiden Prabowo memberikan penjelasan yang sangat mendetail tentang langkah-langkah realistis agar Indonesia bisa berperan lebih konkret dan memberikan dampak nyata.

Inisiatif ini mencakup partisipasi aktif Indonesia dalam Board of Peace, sekaligus melakukan konsolidasi diplomatik yang kuat dengan negara-negara Islam dan negara-negara Timur Tengah lain yang juga menjadi anggota.

Tujuannya sangat jelas: agar setiap langkah yang diambil dalam dewan internasional ini menjadi gerakan yang terkonsolidasi dan tidak parsah, dengan fokus utama membela rakyat Palestina, baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat.

Keberadaan dukungan dari 16 Ormas Islam diharapkan dapat menjadi moral backing bagi para diplomat Indonesia dalam bernegosiasi di forum global tersebut.

Kewaspadaan dan Mekanisme Komunikasi Baru

Meskipun mendukung pendekatan diplomasi progresif yang ditawarkan pemerintah, para tokoh agama tetap menunjukkan sikap kritis yang konstruktif.

Gus Yahya menekankan bahwa pemerintah tetap waspada agar langkah-langkah diplomasi tersebut tidak sampai merugikan kepentingan rakyat Palestina sendiri.

“Kami memahami semua arahan Presiden, termasuk pesan agar tidak mudah terbawa arus diplomasi yang mungkin nanti merugikan Palestina,” tambahnya.

Sikap ini menunjukkan kedewasaan politik para pimpinan Ormas yang tidak hanya mendukung secara membabi buta, tetapi juga ikut mengawal agar arah kebijakan tetap pada relnya.

Selain isu Palestina, pertemuan tersebut juga menyentuh aspek domestik yang vital. Presiden Prabowo menekankan pentingnya membangun mekanisme komunikasi yang lebih kuat dan rutin antara pihak Istana dengan pimpinan Ormas Islam serta tokoh-tokoh agama di Indonesia.

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat persatuan nasional sekaligus menyelaraskan pandangan antara pemerintah dan elemen umat dalam menyikapi isu strategis, baik di tingkat nasional maupun global.

“Banyak hal juga dijelaskan terkait persoalan domestik. Presiden menyetujui adanya upaya konsolidasi, setidaknya berupa komunikasi yang lebih intens antara Presiden dengan pimpinan-pimpinan Ormas Islam maupun tokoh-tokoh Islam, dan nantinya akan dibentuk mekanisme untuk menjalankannya,” pungkas Gus Yahya.

Dampak dan Simbol Persatuan

Kehadiran para pimpinan Ormas dalam pertemuan ini bukan sekadar seremonial belaka. Ini menunjukkan keseriusan tokoh-tokoh Islam di Indonesia dalam mendukung diplomasi pemerintah.

Dengan dukungan dari berbagai organisasi yang memiliki basis massa sangat luas, pemerintah diharapkan mampu menyuarakan kepentingan rakyat Palestina secara lebih efektif dan didengar oleh dunia.

Langkah ini juga menjadi simbol penting bahwa umat Islam di Indonesia tidak hanya aktif dalam urusan keagamaan dan sosial internal, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap isu kemanusiaan global.

Koordinasi yang erat antara pemerintah dan Ormas Islam dianggap strategis dalam membangun konsensus nasional yang kuat, terutama dalam menghadapi isu-isu sensitif yang memiliki dampak luas.

Ketua PBNU kembali menegaskan bahwa peran Ormas Islam tidak hanya sebagai pengawas kebijakan, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah.

Hal ini penting agar setiap kebijakan luar negeri, khususnya terkait Palestina, dapat dilaksanakan dengan dukungan moral dan sosial yang penuh dari masyarakat.

Dengan begitu, dukungan 16 Ormas Islam bersifat komprehensif—tidak hanya sekadar retorika di meja diskusi, tetapi juga berupa kesiapan nyata untuk mendukung program-program pemerintah di tingkat diplomasi maupun sosial.

Pertemuan ini pun membuka peluang bagi komunikasi yang lebih intens antara pemerintah dan berbagai elemen masyarakat.

Model komunikasi seperti ini diyakini mampu memperkuat stabilitas nasional sekaligus memberikan masukan strategis bagi pemerintah dalam merancang kebijakan luar negeri yang berpihak pada kepentingan bangsa dan umat Islam di dunia.

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |