Sambut Olimpiade Musim Dingin 2026: Sejarah, Debut Singapura, hingga Mimpi Indonesia

15 hours ago 5

Menit.co.id – Suasana nostalgia yang kental kini menyelimuti kawasan pegunungan indah di selatan Pegunungan Alpen, Italia.

Tujuh dekade silam, lokasi ini menjadi saksi bisu perhelatan akbar olahraga dunia. Kini, Cortina d’Ampezzo kembali dipercaya untuk menyambut atlet-atlet terbaik dunia dalam edisi ke-25 yang akan berlangsung pada 6 hingga 22 Februari mendatang.

Antusiasme global menjelang perhelatan Olimpiade Musim Dingin 2026 ini semakin tinggi, terutama dengan hadirnya sejumlah negara debutan yang siap menorehkan tinta emas dalam sejarah olahraga mereka.

Sorotan Asia Tenggara: Debut Bersejarah Singapura

Salah satu sorotan utama yang menarik perhatian dunia, khususnya Asia Tenggara, berasal dari negeri jiran, Singapura.

Faiz Basha, atlet ski putra andalan “Negeri Singa”, berhasil mencetak sejarah baru dengan memastikan dirinya sebagai wakil pertama Singapura yang lolos kualifikasi ke ajang Olimpiade Musim Dingin 2026 di Cortina d’Ampezzo.

Faiz berhasil melalui batas kualifikasi lewat kategori slalom pada cabang ski Alpen, sebuah nomor yang secara tradisional didominasi oleh para atlet dari negara-negara Eropa yang memiliki iklim salju abadi.

Keberhasilan Faiz ini bukanlah sebuah kebetulan atau hal yang mudah diraih. Ia menyebut proses kualifikasi tahun ini sebagai yang tersulit sepanjang sejarah penyelenggaraan olimpiade musim dingin. Meski demikian, tekadnya untuk unjuk gigi di kancah global tak pernah goyah.

“Edisi olimpiade ini memiliki kualifikasi paling sulit dalam sejarah. Maka, keberhasilan pencapaian ini adalah hal yang sangat besar bagi saya. Saya tidak terlalu merasakan tekanan karena saya menganggap ini selayaknya kompetisi lain yang pernah saya ikuti di China, Turki, Swedia, dan Finlandia,” ujar Faiz dalam wawancaranya dengan CNA baru-baru ini.

Kisah sukses Faiz tentu menjadi sinyal kuat bagi negara-negara tropis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk mulai serius memetakan peta kekuatan di olahraga musim dingin.

Jejak Sejarah dan Perjuangan Viktor Balck

Melongok ke belakang, perjalanan menuju gelaran megah seperti yang kita lihat saat ini tidak terjadi dalam semalam.

Olimpiade Musim Dingin pertama kali digelar di Chamonix, Prancis, pada tahun 1924, atau 28 tahun setelah Olimpiade Musim Panas pertama diselenggarakan.

Inisiatif lahirnya ajang ini tak lepas dari perjuangan panjang seorang Jenderal veteran asal Swedia, Viktor Gustaf Balck.

Balck, yang juga merupakan sosok penting di balik ajang Nordic Games sejak 1901, memegang peranan krusial dalam mendesak Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk memberikan panggung khusus bagi olahraga-olahraga musim dingin.

Meski menghadapi banyak penolakan dari berbagai pihak, dukungan dari Pierre de Coubertin, pelopor Olimpiade modern, menjadi kunci suksesnya visi Balck tersebut.

“Jenderal Balck percaya olahraga-olahraga musim dingin patut mendapatkan momennya sendiri untuk bersinar. Nordic Games mungkin bukan ajang global, tetapi itu adalah langkah berani pertama,” tulis James Bren dalam bukunya, The History of the Winter Olympics.

Perjalanan panjang tersebut dimulai dengan dimasukkannya seluncur indah (figure skating) dalam Olimpiade Musim Panas London 1908.

Usulan ini kemudian berkembang hingga pada 1921, IOC memutuskan untuk menggelar “Minggu Olahraga Musim Dingin Internasional” di Chamonix.

Ajang yang diikuti oleh 16 negara dan 258 atlet ini sukses besar dan kemudian diakui secara resmi sebagai Olimpiade Musim Dingin pertama.

Inclusivitas Negara Tropis dan Langkah Indonesia

Meski identik dengan negara-negara beriklim empat musim, ajang ini terbukti makin inklusif seiring berjalannya waktu.

Sejak 1928, Olimpiade Musim Dingin dipisahkan sepenuhnya dari Olimpiade Musim Panas dan memberikan ruang bagi negara non-empat musim untuk berpartisipasi.

Meksiko, misalnya, sudah tampil sejak 1928 di St. Moritz, Swiss, disusul Bolivia dan Afrika Selatan pada dekade berikutnya.

Seperti dicatat oleh sejarawan David Goldblatt dalam The Games: A Global History of the Olympics, pada era 1960-an partisipasi semakin meluas tanpa memedulikan kondisi iklim asal negara. Bahkan atlet dari Filipina seperti Ben Nanasca dan Juan Cipriano, yang merupakan pencari suasa yang kemudian diadopsi keluarga di Selandia Baru dan tinggal di Pegunungan Andorra, berhasil berkompetisi.

Keberadaan negara-negara Asia Tenggara pun semakin terlihat. Thailand memulai debutnya pada 2002 di Salt Lake City melalui Prawat Nagvajara.

Malaysia tampil pertama kali di Pyeongchang 2018 lewat Julian Yee dan Jeffrey Webb. Bahkan Timor-Leste yang baru merdeka telah berpartisipasi sejak 2022 lewat Yohan Goutt Gonçalves.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Meskipun perkembangannya terbilang lebih lambat dibanding negara tetangga, Indonesia mulai menunjukkan kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Debut internasional berhasil dicatat di Asian Winter Games 2025 yang lalu di Harbin, China. Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Juni 2025, Indonesia resmi mendaftarkan keanggotaannya ke Federasi Snowboard Internasional (ISF) melalui atlet muda berbakat, Zazi Betari Landman.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang menuju panggung dunia. Harry Warganegara, anggota komite eksekutif Komite Olimpiade Indonesia, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar formalitas belaka.

“Keanggotaan ini bagian dari strategi besar Indonesia untuk memperluas partisipasi cabang olahraga musim dingin. Kami akan menjadikan ajang olahraga musim dingin sebagai bagian dari strategi pengembangan olahraga nasional. Ini adalah awal dari perjalanan panjang menuju panggung Olimpiade Musim Dingin,” ungkap Harry kepada RRI.

Dengan fondasi yang mulai dibangun dan semangat yang ditunjukkan oleh negara-negara tetangga seperti Singapura, mimpi Indonesia untuk melihat atletnya bertanding di ajang sekelas Olimpiade Musim Dingin 2026 bukanlah hal yang mustahil.

Persiapan matang, pembinaan berkelanjutan, serta dukungan semua pihak menjadi kunci agar Merah Putih suatu saat nanti bisa berkibar dengan gagah di tengah salju Cortina d’Ampezzo atau venue-venue lain di masa depan.

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |