Menit.co.id – Jagat media sosial kembali diramaikan oleh sebuah fenomena yang mencuri perhatian publik yaitu video viral Sok Imut.
Seorang pemeran wanita dalam cuplikan video pendek dengan ekspresi yang dinilai “sok imut” mendadak menjadi pusat sorotan dan buruan warganet di berbagai platform digital, mulai dari TikTok, X (Twitter), hingga Instagram, pada akhir Januari 2026.
Kemunculan video viral Sok Imut tersebut memicu gelombang diskusi luas di ruang digital.
Konten yang awalnya dianggap sebagai hiburan ringan itu dengan cepat menyebar melalui unggahan ulang, video reaksi, hingga upaya sebagian warganet untuk menelusuri identitas asli sosok perempuan di dalam video.
Dalam kurun waktu 24 hingga 48 jam terakhir, penyebarannya berlangsung masif dan memantik perdebatan mengenai batas etika konsumsi konten viral serta perlindungan privasi individu di dunia maya.
Mengapa Video Viral Sok Imut Ini Meledak di Awal 2026?
Fenomena popularitas konten ini tidak lepas dari karakter psikologis audiens digital yang cenderung tertarik pada perilaku unik, tidak biasa, atau memancing respons emosional kuat.
Video viral Sok Imut dinilai memunculkan beragam reaksi, mulai dari rasa gemas, hiburan, hingga perasaan risih yang kerap disebut sebagai cringe.
Berdasarkan tren percakapan warganet pada Sabtu, 31 Januari 2026, kata kunci yang berkaitan dengan sosok pemeran wanita tersebut sempat menempati jajaran topik paling ramai dibicarakan di Indonesia.
Faktor lain yang mendorong popularitasnya adalah peran algoritma media sosial. Tingginya interaksi berupa komentar, tanda suka, dan bagikan membuat sistem platform secara otomatis memperluas jangkauan konten tersebut.
Banyak kreator lain kemudian ikut memanfaatkan momentum dengan membuat parodi atau video reaksi, yang secara tidak langsung memperkuat eksposur video viral Sok Imut ke audiens yang lebih luas.
Rasa penasaran publik pun kian meningkat. Ribuan komentar bermunculan di berbagai unggahan yang menanyakan akun asli sang pemeran wanita, mencerminkan betapa kuatnya keingintahuan warganet terhadap figur yang hanya muncul singkat di layar ponsel.
Cara Kerja Algoritma di Balik Viralitas Konten
Secara mekanisme, fenomena ini berkembang melalui efek bola salju. Video yang awalnya diunggah oleh akun dengan jangkauan terbatas mendapat respons awal karena visual dan ekspresinya dianggap kontras dengan kebiasaan sehari-hari.
Algoritma platform kemudian membaca sinyal tersebut sebagai konten yang layak direkomendasikan ke lebih banyak pengguna melalui halaman For You Page (FYP) atau Discover.
Durasi tonton yang tinggi menjadi faktor kunci. Banyak pengguna menonton ulang untuk memastikan detail ekspresi dan konteks video, sehingga watch time meningkat signifikan.
Di era koneksi internet berkecepatan tinggi tahun 2026, sebuah video berdurasi belasan detik dapat menjangkau jutaan pengguna hanya dalam hitungan jam, sebagaimana terjadi pada video viral Sok Imut ini.
Risiko Privasi di Tengah Perburuan Identitas
Di balik popularitasnya, perburuan identitas pemeran wanita dalam video tersebut menyimpan risiko serius.
Praktik pelacakan yang dilakukan warganet berpotensi mengarah pada doxing, yakni penyebaran data pribadi tanpa izin.
Dalam sejumlah kasus serupa, pencarian identitas sering kali berujung pada terbongkarnya alamat rumah, nomor telepon, hingga akun media sosial milik keluarga terdekat.
Beberapa risiko yang mengintai antara lain pelecehan digital massal yang berdampak pada kesehatan mental, penyalahgunaan data untuk penipuan daring, hingga ancaman keamanan fisik apabila informasi sensitif tersebar luas.
Padahal, regulasi perlindungan data pribadi di Indonesia telah diperketat melalui Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), yang mengatur sanksi tegas bagi pihak yang menyebarkan data pribadi orang lain tanpa persetujuan.
Sikap Bijak Menghadapi Konten Viral
Fenomena video viral Sok Imut menjadi pengingat penting bagi pengguna media sosial agar lebih bijak dalam menyikapi tren daring.
Warganet disarankan untuk membatasi konsumsi konten sebatas hiburan tanpa ikut terlibat dalam pelacakan identitas.
Verifikasi informasi sebelum membagikan ulang juga menjadi langkah krusial untuk mencegah penyebaran hoaks maupun fitnah.
Penggunaan fitur pelaporan terhadap konten yang mengandung pelecehan atau pelanggaran privasi perlu dimaksimalkan.
Selain itu, setiap pengguna diingatkan bahwa jejak digital bersifat permanen, sehingga komentar atau unggahan bernada negatif dapat berdampak pada reputasi pribadi di masa depan.
Sebagai alternatif, publik didorong untuk mengalihkan perhatian pada konten yang lebih edukatif dan inspiratif.
Dengan memanfaatkan fitur penyaringan kata kunci serta mengikuti akun-akun resmi yang fokus pada literasi digital dan keamanan siber, pengalaman bermedia sosial dapat tetap sehat di tengah derasnya arus viralitas.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

3 days ago
5














































