Menit.co.id – Luca Marini, pembalap asal Italia yang juga merupakan adik tiri legenda Valentino Rossi, pertama kali menjejakkan kaki di kelas utama MotoGP pada tahun 2021 bersama tim milik sang kakak.
Setelah sukses menorehkan prestasi sebagai runner-up Kejuaraan Dunia Moto2, Marini melakukan transisi khas pembalap Italia lainnya yang lulusan dari akademi, mengikuti jejak sukses Pecco Bagnaia dan Marco Bezzecchi pada masanya.
Namun, peta perjalanannya berubah drastis pada 2023. Ketika sang juara dunia, Marc Marquez, mengumumkan kepergiannya dari Honda untuk bergabung dengan tim Gresini, Marini tanpa ragu mengambil keputusan besar.
Ia memanfaatkan peluang kosong tersebut untuk mengikuti jejak Rossi, kali ini bukan sebagai rekan setim, melainkan sebagai pengemban misi berat di tim pabrikan Honda.
Musim 2025 lalu menjadi saksi bisu bagaimana Honda mulai menunjukkan kedipan harapan, dengan Joan Mir yang berhasil meraih dua podium.
Meski demikian, Marini tetap realistis dan menyatakan bahwa masih ada tumpukan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Ia mengakui adanya langkah maju, namun jarak dengan para pembalap terdepan tetap menjadi dinding tebal yang harus ditembus.
Kondisi ini tak lepas dari warisan performa buruk Honda yang sempat terpuruk dalam beberapa musim terakhir, membuat proses recovery membutuhkan waktu lebih lama.
“Langkah majunya memang sangat besar, tetapi masih belum cukup. Sekarang datang bagian yang sulit. Ketika Anda tertinggal 0,3 detik dari kecepatan pembalap terbaik untuk memenangkan balapan, saat itulah menutup jarak menjadi sangat sulit,” ujar Marini, dikutip dari MotoSan.
“Jauh lebih sulit untuk meningkatkan performa ketika berada di level tinggi.”
Pembalap berusia 28 tahun itu menegaskan bahwa telah terjadi perubahan mendasar dalam konsep kerja Honda. Ia merasa telah memberikan kontribusi signifikan dalam proses kebangkitan pabrikan tersebut.
Peran Marini tidak sekadar mengendarai motor, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi teknis.
Ia bahkan mengkritisi pendekatan Honda di masa lalu yang terlalu bergantung pada satu individu, yang ujung-ujungnya berujung pada stagnasi teknis.
Ketergantungan berlebih pada bakat alami Marc Marquez untuk menutupi kekurangan motor, menurut Marini, justru membuat Honda sedikit kehilangan arah dalam pengembangan sisi teknis, yang menjadi salah satu akar dari performa buruk Honda di era pasca-Marquez awal.
“Secara teknis, saya telah membantu banyak hal pada motor. Saya pikir kontribusi terbesar saya adalah mencoba memberikan jawaban kepada semua insinyur,” tegas Marini.
“Bukan hanya bertanya atau meminta, tetapi mencoba bersama mereka untuk menemukan jawaban atas setiap masalah.”
Marini dikenal sebagai pembalap dengan pendekatan sangat analitis, hampir menyerupai seorang insinyur di pinggir lintasan.
Ia menjelaskan bahwa gaya kerjanya ini merupakan kekuatan tersendiri, meski terkadang berbeda dengan pembalap lain yang lebih mengandalkan feeling murni.
“Terkadang itu menjadi masalah karena ada pembalap yang tidak tahu apa-apa tentang motor… mereka mendorong hingga batasnya, dan jika motor berfungsi dan semuanya baik-baik saja, sempurna,” tutur Marini membandingkan.
“Tetapi saya suka mengetahui, memahami, dan mempelajari cara kerja motor. Saya selalu penasaran tentang cara membaca data, selalu bertanya kepada para insinyur, kepala mekanik saya, teknisi lap, selalu mempelajari sesuatu yang baru.”
Komitmen Marini terhadap Honda bukan sekadar retorika. Ia bahkan tengah sibuk mempelajari bahasa Jepang untuk memperhalus komunikasi dengan tim.
Ia menyadari bahwa hambatan bahasa sering kali menjadi penghalang dalam menyampaikan feedback teknis yang krusial.
“Meskipun kami berbicara dalam bahasa Inggris, saya ingin belajar bagaimana menjelaskan diri saya dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh mereka,” aku Marini.
Dua musim bersama tim pabrikan Honda telah menjadi periode pembelajaran intensif bagi Marini. Ia mengakui bahwa tahun pertamanya sangat berat, seringkali finis di belakang grid, namun tahun ini menunjukkan progres signifikan dengan lolos kualifikasi di posisi ke-13.
Marini melihat musim 2026 sebagai momen krusial untuk membuktikan bahwa keputusannya pindah dari Ducati bukanlah langkah yang salah, sekaligus untuk membenahi citra performa buruk Honda secara permanen.
“Mungkin ada orang yang tidak memahami perubahan tersebut, terutama di awal musim lalu. Sekarang hasilnya menunjukkan sebaliknya,” ujar Marini percaya diri.
“Sekarang saya memiliki satu tahun lagi kesempatan untuk terus berkembang bersama Honda, untuk mencoba memenangkan balapan musim depan pada 2026, yang menurut saya akan menjadi kesempatan terbaik dalam hidup saya.”
Soal hubungannya dengan pembalap VR46 Academy lainnya, Marini menegaskan bahwa tidak ada perubahan berarti meski kini ia memegang peran kunci di tim pabrikan.
Ia tetap menjaga kedekatan dengan rekan-rekannya, meski jadwal yang lebih padat menjadi tantangan tersendiri.
“Kapan pun saya bisa, saya menghabiskan waktu bersama mereka. Saya tidak sedang dalam proses menjadi mandiri. Satu-satunya hal yang saya coba lakukan adalah memberikan 100% setiap akhir pekan,” pungkasnya, menandai tekadnya untuk membawa Honda kembali ke puncak.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

17 hours ago
4

















































