Olimpiade Musim Dingin 2026 Hadapi Pemanasan Global, Salju Buatan Jadi Solusi Utama

3 hours ago 2
Olimpiade Musim Dingin 2026

Menit.co.id – Fenomena pemanasan global menghadirkan tantangan besar bagi penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milan dan Cortina d’Ampezzo, Italia.

Dengan suhu yang terus meningkat, panitia harus mengandalkan teknologi salju buatan agar kompetisi tetap berlangsung aman dan adil.

Olimpiade Musim Dingin 2026 resmi dibuka pada 6 Februari 2026, namun kondisi iklim di Cortina d’Ampezzo menunjukkan perubahan drastis dibanding saat kota ini pertama kali menjadi tuan rumah pada 1956.

Data dari climatecentral.org mencatat suhu rata-rata Februari di Cortina kini naik 3,6°C dari era sebelumnya, menyulitkan terbentuknya salju alami yang menjadi tulang punggung cabang olahraga musim dingin.

Kenaikan suhu juga memengaruhi jumlah hari bersuhu di bawah nol derajat. Jumlah hari beku menurun sekitar 41 hari atau 19 persen dari periode sebelumnya, mempersingkat musim dingin yang ideal untuk kompetisi ski, snowboarding, dan olahraga salju lainnya.

Untuk menjaga kelancaran Olimpiade Musim Dingin 2026, panitia menggunakan lebih dari 3 juta yard kubik salju buatan.

Metode ini dilakukan dengan menyemprotkan air bertekanan tinggi melalui mesin snow cannon sehingga terbentuk butiran es halus.

Meski efektif, proses ini membutuhkan energi dan air dalam jumlah besar yang diambil dari sungai atau reservoir lokal.

“Teknologi salju buatan digunakan untuk memastikan lintasan tetap aman dan stabil bagi atlet,” kata laporan dari reuters.com.

Langkah ini menjadi simbol perubahan besar dalam sejarah olahraga musim dingin, yang kini harus bergantung pada intervensi manusia demi kelangsungan pertandingan.

Dampak pemanasan global tidak hanya mengancam Olimpiade Musim Dingin, tetapi juga masa depan penyelenggaraan event serupa.

Analisis menunjukkan hampir semua kota yang pernah menjadi tuan rumah sejak 1950 mengalami kenaikan suhu rata-rata sekitar 1,5°C.

Riset terbaru memprediksi bahwa dari 93 lokasi potensial di seluruh dunia, hanya 52 kota yang masih memiliki kondisi iklim memadai pada dekade 2050-an.

Untuk penyelenggaraan Paralympic Games bulan Maret, jumlah lokasi yang layak diperkirakan hanya 22 kota.

Fenomena ini mendorong para atlet untuk terus berpindah lokasi demi menemukan tempat latihan yang cukup dingin.

“Mengejar salju” kini menjadi kenyataan bagi atlet profesional di tengah ketidakpastian iklim global, memperlihatkan tantangan baru yang dihadapi Olimpiade Musim Dingin 2026.

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |