Muncul di Teluk Persia, Kapal Induk Drone Iran Shahid Bagheri Jadi Tantangan Serius bagi USS Abraham Lincoln

4 days ago 11

Menit.co.id – Tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menghangat setelah citra satelit terbaru mengkonfirmasi keberadaan kapal perang canggih milik Republik Islam Iran.

Berdasarkan pengamatan satelit pada tanggal 27 Januari 2026, terlihat jelas kapal induk drone Iran, IRIS Shahid Bagheri, sedang berlabuh sekitar 5 hingga 6 kilometer di sebelah selatan pelabuhan utama Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGCN) di Bandar Abbas, Teluk Persia.

Peningkatan aktivitas militer ini sontak memicu kewaspadaan internasional, terutama ketika drone intai strategis milik Angkatan Laut Amerika Serikat, MQ-4C Triton, dilaporkan terus menerus melakukan pengawasan ketat di wilayah Selat Hormus yang sangat vital tersebut.

Keberadaan Shahid Bagheri di perairan strategis ini menandai babak baru dalam proyeksi kekuatan maritim Tehran.

Transformasi Besar-Besaran Kapal Perang

IRIS Shahid Bagheri bukanlah kapal perang konvensional yang dibangun dari nol. Kapal induk yang dioperasikan langsung oleh IRGCN ini memiliki riwayat unik sebagai kapal kontainer sipil buatan Korea Selatan yang bernama Perarin.

Menjelajah dari identitas sipilnya, kapal ini menjalani proses konversi total sejak tahun 2022 hingga 2024 di galangan kapal dekat Bandar Abbas, mengubahnya menjadi monster maritim yang siap tempur.

Kapal ini resmi dioperasikan pada 6 Februari 2025, ditandai dengan pernyataan tegas dari Komandan IRGCN, Alireza Tangsiri.

Ia menyebut proyek Kapal Induk Drone Iran Shahid Bagheri sebagai mahakarya militer angkatan laut terbesar dalam sejarah Iran.

Modifikasi struktural yang dilakukan sangat ekstensif, termasuk pembangunan dek penerbangan memanjang sekitar 180 meter yang dilengkapi dengan ski jump atau papan luncur.

Fitur ini secara khusus dioptimalkan untuk meluncurkan drone tempur bermesin jet, seperti Qaher-313, yang membutuhkan kecepatan tinggi saat lepas landas.

Spesifikasi Teknis dan Kekuatan Mematikan

Dalam hal spesifikasi, Shahid Bagheri adalah sebuah raksasa dengan panjang total mencapai 240 meter, lebar 32 meter, dan bobot perpindahan sekitar 42.000 ton.

Meskipun memiliki bobot yang masif, kapal ini mampu melaju dengan kecepatan maksimum sekitar 20 knot atau setara dengan 37 km/jam.

Daya tahannya didukung oleh sistem persenjataan dan pertahanan yang mutakhir, termasuk sistem peperangan elektronik (EW) untuk mengganggu musuh dan rudal antikapal jarak jauh jenis Nor/Qader.

Kapabilitas serangunya berpusat pada kemampuannya mengangkut armada udara tak berawak dalam jumlah besar.

Shahid Bagheri dirancang untuk membawa hingga 60 unit drone dari berbagai tipe, termasuk jet tempur Qaher-313, drone pengintai Ababil-3N, serta drone serangan Mohajer-6.

Selain itu, kapal ini juga memiliki hanggar yang mampu menampung helikopter pendukung seperti Bell 206 atau Mi-17, menjadikannya sebuah pangkalan udara terapung yang fleksibel.

Sebagai platform proyeksi kekuatan, Kapal Induk Drone Iran ini dirancang untuk menjalankan misi pengintaian jarak jauh, serangan drone presisi, dan operasi asimetris yang kompleks di wilayah strategis seperti Samudera Hindia dan Laut Merah.

Tantangan bagi USS Abraham Lincoln di Teluk Persia

Kehadiran Shahid Bagheri tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama ketika Amerika Serikat mengerahkan kapal induk kelas Nimitz, USS Abraham Lincoln (CVN-72), ke wilayah Timur Tengah.

Meskipun USS Abraham Lincoln diakui sebagai salah satu platform militer paling canggih di dunia, para analis pertahanan percaya bahwa “raja laut” tersebut tidak lagi invincible atau tak terkalahkan menghadapi evolusi taktik perang Iran.

Ancaman terbesar yang disoroti oleh para ahli adalah penggunaan drone swarm atau serangan kawanan drone.

Iran dikenal memiliki doktrin asimetris yang mengandalkan kuantitas. Dalam skenario ini, ratusan drone murah dapat diluncurkan secara simultan untuk memenuhi ruang udara dan membingungkan sistem pertahanan antipesawat kapal induk AS yang mahal.

Asimetri dan Geografi: Kombinasi Mematikan

Faktor ekonomi perang, atau asymmetry of cost, menjadi poin krusial dalam analisis ini. Drone atau rudal produksi Iran yang biayanya relatif murah mampu memaksa AS menghabiskan misil interceptor bernilai jutaan dolar untuk setiap serangan.

Jika serangan dilakukan dalam skala besar, efisiensi pertahanan USS Abraham Lincoln dan gugus tempurnya akan berkurang drastis karena persediaan amunisi yang terkuras.

Lingkungan geografis juga memainkan peran penting. Berbeda dengan laut lepas di mana kapal induk AS unggul dalam manuver, Teluk Persia dan Selat Hormus adalah perairan sempit.

Keterbatasan ruang ini memaksa kapal seukuran Abraham Lincoln untuk bergerak lebih dekat dengan garis pantai musuh, meningkatkan risiko terkena rudal pantai atau serangan dari darat.

Ancaman lain datang dari portofolio rudal balistik dan antikapal Iran yang mampu diluncurkan secara bersamaan dari berbagai arah, menciptakan stress test bagi radar dan sistem pemrosesan target kapal AS.

Belum lagi risiko perang elektronik dan siber yang dapat membutakan sensor dan memutus komunikasi, yang secara efektif melumpuhkan kesadaran situasional kapal induk tersebut.

Masa Depan Pertempuran Maritim

USS Abraham Lincoln tidak beroperasi sendirian; ia dikelilingi oleh kapal perusak dan penjelajah dalam Carrier Strike Group.

Namun, ancaman Kapal Induk Drone Iran tidak hanya menyasar kapal induk utama, tetapi juga kapal-kapal pendukung yang jika berhasil dilumpuhkan, akan mengurai seluruh formasi pertahanan.

Dengan demikian, konflik berkepanjangan di kawasan ini tidak hanya menguji kekuatan logistik dan mental awak kapal, tetapi juga menempatkan tekanan politik besar akibat risiko eskalasi global.

Melihat dinamika ini, Kapal Induk Drone Iran Shahid Bagheri bukan sekadar simbol kebanggaan militer Tehran, melainkan representasi nyata pergeseran kekuatan di mana teknologi asimetris mampu menantang dominasi kapal induk superpower tradisional di medan perang modern abad ke-21.

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |