Israel Bom Gaza. (AFP/BASHAR TALEB)
Menit.co.id – Ketegangan kembali memuncak di wilayah konflik Timur Tengah setelah serangan udara besar-besaran dilaporkan menghantam Jalur Gaza.
Aksi militer ini memicu duka mendalam bagi warga sipil, terutama karena menimpa lokasi pengungsian.
Laporan terkini menyebutkan bahwa aksi militer yang kerap disebut sebagai Israel bom Gaza kembali terjadi dan memakan korban jiwa yang tidak sedikit.
Dilansir dari BBC, Minggu (1/2/2026), setidaknya 32 orang dilaporkan tewas dalam serangan yang terjadi pada Sabtu (31/1) waktu setempat.
Badan pertahanan sipil yang dikelola Hamas mengonfirmasi bahwa para korban meninggal dunia termasuk di antaranya perempuan dan anak-anak.
Salah satu sasaran terberat adalah tenda-tenda pengungsi di kota Khan Younis, Gaza selatan, yang dihujani tembakan helikopter tempur.
Warga Palestina setempat menggambarkan serangan ini sebagai serangan paling dahsyat yang mereka alami sejak penerapan fase kedua gencatan senjata pada awal bulan ini.
Di sisi lain, militer Israel membenarkan serangan tersebut dengan dalih pembalasan.
Dalam keterangannya, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa insiden di mana Israel bom Gaza dilakukan adalah respons terhadap pelanggaran perjanjian yang diduga dilakukan oleh Hamas pada Jumat (30/1).
Lebih lanjut, IDF mengklaim telah menargetkan lokasi strategis kelompok militan. Mereka mengidentifikasi ‘delapan teroris’ yang keluar dari infrastruktur teror bawah tanah di Rafah timur, wilayah yang diduduki pasukan Israel berdasarkan perjanjian Oktober.
Selain itu, bersama Badan Keamanan Israel (ISA), IDF mengaku menyerang empat komandan lapangan, fasilitas penyimpanan senjata, dan lokasi produksi amunisi di Jalur Gaza tengah.
Hamas tidak tinggal diam terhadap serangan ini. Mereka mengutuk keras kekerasan yang terjadi dan mendesak pemerintahan Amerika Serikat untuk segera mengambil tindakan tegas.
Menurut Hamas, pelanggaran gencatan senjata yang terus berulang ini merupakan bukti nyata bahwa pemerintah Israel berkomitmen melanjutkan perang genosida brutalnya.
Dampak serangan ini sungguh tragis. Jurubicara pertahanan sipil melaporkan bahwa tujuh korban tewas berasal dari satu keluarga pengungsi di Khan Younis.
Tenda pengungsian, apartemen tempat tinggal, hingga kantor polisi tidak luput dari sasaran. Di Rumah Sakit Shifa, Kota Gaza, dokter mengkonfirmasi kematian tiga anak dan dua wanita akibat serangan udara yang mengenai apartemen mereka.
Emosi kehilangan terlihat jelas dari ucapan Samer al-Atbash, paman dari tiga anak korban. “Kami menemukan tiga keponakan kecil saya di jalan.
Mereka mengatakan ‘gencatan senjata’ dan sebagainya. Apa yang dilakukan anak-anak itu? Apa yang telah kami lakukan?” tanyanya kepada Reuters, mencerminkan keputusasaan warga di tengah situasi Israel bom Gaza yang tak kunjung usai.
Serangan ini berlangsung menjelang rencana pembukaan kembali penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza-Mesir, hari Minggu ini, setelah IDF sebelumnya menemukan jenazah sandera terakhir Israel.
Reaksi internasional pun segera mengalir; Kementerian Luar Negeri Mesir mengutuk serangan tersebut dan mendesak pengekangan maksimal, sementara Qatar sebagai mediator utama juga mengecam pelanggaran berulang yang dilakukan.
Sebagai konteks, pada Januari 2026, utusan khusus AS Steve Witkoff mengumumkan dimulainya fase kedua kesepakatan gencatan senjata.
Fase ini bertujuan mencakup pembentukan pemerintahan teknokratis Palestina, rekonstruksi, serta demiliterisasi penuh wilayah. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perdamaian masih sangat rapuh.
Konflik ini bermula ketika Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza membalas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Serangan tersebut kala itu menewaskan sekitar 1.200 orang dan 251 sandera. Sejak itu, agresi militer Israel terus berlanjut.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan bahwa total korban tewas telah melewati angka 71.660 jiwa.
Angka statistik tersebut menjadi catatan kelam tentang dampak serangan Israel bom Gaza yang telah berlangsung lama.
Ironisnya, meskipun gencatan senjata diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, setidaknya 509 warga Palestina tetap tewas, bersamaan dengan gugurnya empat tentara Israel.
Angka statistik dari kementerian kesehatan setempat dianggap valid dan dapat diandalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta berbagai lembaga hak asasi manusia internasional.
Namun, transparansi informasi terkendala karena Israel tidak mengizinkan organisasi berita internasional, termasuk BBC, untuk memasuki Gaza guna melakukan pelaporan independen secara langsung.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

3 days ago
8














































