Carlos Alcaraz. Foto: ligaolahraga.com
Menit.co.id – Persaingan menuju final Australian Open 2026 kian mengerucut setelah petenis nomor satu dunia, Carlos Alcaraz, melontarkan tantangan terbuka kepada lawannya, Alexander Zverev.
Menjelang bentrok semifinal yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat ini, Alcaraz dengan percaya diri menyatakan siap membuat petenis peringkat tiga dunia tersebut bekerja ekstra keras, bahkan sampai “berkeringat dingin”, demi bisa mengalahkannya.
Petenis berusia 22 tahun itu mengaku telah melakukan analisis mendalam terhadap pola permainan Zverev sepanjang turnamen.
Ia menyadari bahwa menjaga rekam klinisnya—yang belum kehilangan satu set pun sepanjang turun di Melbourne—membutuhkan fokus maksimal menghadapi kekuatan ofensif yang dimiliki petenis Jerman tersebut.
“Saya telah menonton pertandingannya sepanjang turnamen,” ujar Carlos Alcaraz, mengutip pernyataannya yang dirilis oleh ATP, Jumat (23/1).
Ia menambahkan, “Level permainannya sejauh ini sangat mengesankan, jadi ini akan menjadi pertarungan yang hebat. Saya tahu bahwa servisnya cukup bagus. Dia bermain sangat solid dan agresif ketika dia bisa dalam reli dari baseline.”
Keyakinan diri Alcaraz tidak sekadar retorika. Juara Grand Slam empat kali itu menegaskan bahwa persiapannya sudah matang secara taktis maupun mental.
“Saya pasti akan siap. Saya senang bisa bermain melawannya di sini di semifinal AO. Saya tahu apa yang harus saya lakukan,” tegasnya.
Lebih jauh, petenis Spanyol tersebut kembali menegaskan ambisinya untuk mendominasi jalannya pertandingan.
“Saya akan mempersiapkan diri dengan baik untuk pertandingan itu. Jika dia ingin mengalahkan saya, dia harus banyak berkeringat,” sergah Alcaraz.
Kontras dengan perjalanan mulus Alcaraz yang menyapu bersih kemenangan tanpa kehilangan set, jalan Zverev menuju empat besar terbilang lebih terjal.
Petenis Jerman itu beberapa kali diuji ketahanannya dengan harus kehilangan satu set dalam empat dari lima pertandingan yang telah dilakoninya sebelumnya.
Laga semifinal ini memiliki taruhan besar bagi kedua kubu. Bagi Carlos Alcaraz, kemenangan di Melbourne Park bukan sekadar menambah trofi, melainkan langkah historis untuk melengkapi Career Grand Slam-nya.
Di sisi lain, Zverev yang sudah tiga kali menjadi finalis turnamen mayor dan menjadi runner-up tahun lalu di Melbourne, sangat berhasrat menebusnya dengan merebut trofi Grand Slam perdananya yang telah lama dinantikan.
Performa Alcaraz saat menundukkan Alex de Minaur pada perempat final menjadi indikator peningkatan mutu permainannya.
Ia mampu meningkatkan intensitas sekalipun sempat menghadapi set pembuka yang ketat, melalui pukulan-pukulan keras yang terukur dan agresi yang sangat disiplin.
Strategi inilah yang diprediksi akan kembali menjadi andalan utamanya untuk menyeret Zverev ke dalam perang relai yang menguras fisik.
Sementara itu, Zverev sangat bergantung pada senjata andalannya, yaitu servis. Pada laga perempat final kontra Learner Tien, ia mampu mencatatkan 24 ace dan memanfaatkan pukulan pertamanya untuk memperpendek durasi poin.
Pola ini menjadi kunci bagi Zverev untuk menghindari reli panjang yang bisa menguntungkan gaya bermain Alcaraz.
Dengan rekor head to head yang terkunci imbang 6–6, duel puncak semifinal Australian Open ini diprediksi akan berjalan sengit.
Pertandingan kemungkinan besar akan bergantung pada efektivitas Carlos Alcaraz dalam memberikan tekanan melalui reli panjang, atau sebaliknya, kemampuan Zverev memaksakan keunggulan servisnya serta pengalamannya di atas lapangan hard court Melbourne.
Zverev sendiri mengakui bahwa tekanan di awal turnamen selalu besar bagi petenis papan atas, namun ia kini berfokus pada nikmatnya bermain.
“Saya sebenarnya merasa bahwa pemain top merasakan tekanan paling besar di awal, karena tidak ingin tersingkir lebih awal,” kata Zverev sebelum menyaksikan hasil pertandingan Alcaraz melawan De Minaur.
“Sekarang, siapa pun yang akan saya hadapi di semifinal, Carlos atau Alex, mereka pemain hebat. Anda hanya menantikan pertandingan yang fantastis. Itulah yang Anda nantikan. Tentu saja, dalam kasus saya, saya masih mengejar gelar Grand Slam yang saya idamkan. Saya masih ingin meraihnya, tetapi saya juga ingin menikmati tenis saya,” tutup petenis berusia 28 tahun tersebut.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

5 days ago
13














































