Menit.co.id – Bagi penonton film aksi, menyaksikan Tom Cruise melompat dari tebing dengan sepeda motor atau bergelantungan di sisi pesawat yang sedang lepas landas adalah suguhan hiburan kelas atas. Namun, bagi para petinggi perusahaan asuransi film di Hollywood, adegan-adegan tersebut justru menyerupai mimpi buruk yang nyata.
Di usia 63 tahun, bintang utama waralaba Mission: Impossible itu bukannya mengurangi intensitas kerja atau memilih kenyamanan, melainkan semakin ekstrem dalam menjalani kariernya. Tom Cruise tetap berpegang teguh pada satu prinsip yang sudah lama ia jalani: menolak menggunakan pemeran pengganti untuk adegan berbahaya.
Dedikasi ekstrem tersebut ternyata membawa konsekuensi besar di balik layar, terutama bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab menjamin keselamatan produksi film. Dalam industri perfilman, risiko cedera serius atau bahkan kematian aktor utama bisa menghentikan produksi film bernilai ratusan juta dolar secara total.
Tak heran jika perusahaan asuransi merasa berada di posisi sulit setiap kali Tom Cruise memutuskan untuk melakukan aksi berisiko tinggi, seperti base jump berulang kali demi mendapatkan satu adegan sempurna. Satu kesalahan teknis kecil saja tidak hanya mengancam nyawa seorang aktor legendaris, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian finansial yang sangat besar.
Bukan rahasia lagi bahwa premi asuransi untuk film-film Tom Cruise termasuk yang termahal di dunia. Setiap aksi nekat yang direncanakan harus melalui perhitungan risiko mendetail. Proses negosiasi antara tim produksi dan pihak asuransi pun kerap berlangsung alot, bahkan penuh perdebatan.
Dalam beberapa kasus, perusahaan asuransi disebut menolak menjamin adegan tertentu karena dinilai terlalu berbahaya. Namun, Cruise yang juga berperan sebagai produser sering kali menemukan cara agar adegan tersebut tetap dapat direalisasikan. Ia bahkan pernah mengganti perusahaan asuransi ketika merasa pihak penjamin terlalu berhati-hati.
Kisah tersebut diungkapkan CEO Skydance Production, David Ellison, dalam sebuah wawancara bersama Collider. “Kami ingin menggantung Tom di salah satu sisi gedung, tetapi tidak bisa mendapatkan perusahaan asuransi yang mau meng-cover. Tom bahkan ingin memecat perusahaan asuransi yang sudah dikontrak,” ujar Ellison sambil tertawa, merujuk pada adegan ikonik saat Cruise memanjat Burj Khalifa.
Marc Federman dari Epic Insurance Brokers & Consultants yang berbasis di San Francisco menjelaskan bahwa industri asuransi film kini semakin ketat. Dalam wawancara dengan Newsweek, ia menyebut rata-rata premi asuransi produksi film berada di kisaran 3 persen dari total anggaran.
“Di dalam angka tersebut sudah termasuk asuransi pemain, yang mencakup biaya tambahan produksi akibat kecelakaan, sakit, atau bahkan kematian aktor yang diasuransikan,” jelas Federman.
Meski telah beberapa kali mengalami cedera serius, termasuk patah pergelangan kaki saat melompat antar gedung dalam Mission: Impossible – Fallout, Cruise tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti. Baginya, risiko adalah bagian dari totalitas dalam berkarya.
Bagi Cruise, kekhawatiran pihak asuransi merupakan harga yang harus dibayar demi menghadirkan aksi nyata tanpa bergantung pada efek CGI semata. Ia percaya pengalaman menonton yang autentik hanya bisa dirasakan jika aksi dilakukan secara langsung.
Maka, setiap kali penonton terpukau melihat adegan berbahaya di layar lebar, ada sisi lain yang jarang disadari. Di balik layar, mungkin ada seorang agen asuransi yang menahan napas, berharap Tom Cruise kembali mendarat dengan selamat setelah satu aksi ekstrem lainnya.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

16 hours ago
4

















































