Menit.co.id – Pengadilan Distrik Seoul menjatuhkan vonis hukuman penjara selama 20 bulan kepada mantan Ibu Negara Korea Selatan, Kim Keon Hee, pada Rabu (28/1/2026).
Vonis ini merupakan buntut dari kasus korupsi suap dan gratifikasi yang menjerat istri dari mantan Presiden Yoon Suk Yeol tersebut.
Majelis hakim memutuskan bahwa terdakwa terbukti bersalah menerima barang mewah berupa tas tangan merek Chanel dan kalung berlian, yang oleh publik disebut-sebut sebagai “petaka” bagi keluarga mantan presiden.
Dalam putusannya, hakim menyatakan bahwa hanya satu dari sekian banyak dakwaan jaksa yang terbukti secara sah, yakni penerimaan gratifikasi.
Sementara itu, tuduhan terkait keterlibatan terdakwa dalam skema manipulasi saham Deutsch Motors serta dugaan pelanggaran Undang-Undang Dana Politik dinyatakan tidak terbukti karena kurangnya bukti yang meyakinkan.
Oleh karena itu, vonis hukuman yang dijatuhkan oleh pengadilan jauh lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan awal jaksa penuntut umum, yang semula meminta agar Kim Keon Hee dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun.
Istri mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol ini telah menjalani masa penahanan sejak Agustus 2025 lalu, menyusul sejumlah tuduhan hukum yang mengarah kepadanya.
Dalam berkas perkara, ia didakwa menerima suap, terlibat dalam manipulasi harga saham, serta diduga melakukan intervensi dalam urusan politik domestik.
Meskipun demikian, terdakwa telah secara konsisten membantah seluruh rangkaian tuduhan tersebut sejak awal persidangan.
Keputusan hakim ini datang hanya selang kurang dari dua minggu setelah suaminya, Yoon Suk Yeol, lebih dulu divonis bersalah dan dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun.
Vonis terhadap Yoon diberikan karena ia dianggap bertanggung jawab atas dekrit hukum darurat militer yang memicu kekacauan besar di Korea Selatan pada akhir tahun 2024.
Fenomena ini menorehkan rekor baru kelam bagi Korea Selatan, mengingat ini merupakan kali pertama dalam sejarah negara tersebut di mana pasangan mantan Presiden dan mantan Ibu Negara sama-sama menjalani masa hukuman penjara.
Dalam persidangan, terungkap bahwa nilai gratifikasi yang diterima mencapai 80 juta won atau setara dengan kurang lebih Rp936 juta.
Barang-barang mewah tersebut, termasuk tas kalung berlian, merupakan pemberian dari Gereja Unifikasi yang kerap dikaitkan dengan berbagai kontroversi.
Selain itu, jaksa juga mendakwa bahwa terdakwa menerima fasilitas berupa 58 jajak pendapat secara cuma-cuma yang nilainya mencapai 270 juta won atau sekitar Rp3,1 miliar dari seorang broker politik bernama Myung Tae-kyun menjelang pemilihan presiden 2022.
Jaksa penuntut juga sempat mendalilkan bahwa Kim Keon Hee menerima aliran dana lebih dari 800 juta won atau setara Rp9,3 miliar sebagai hasil dari keterlibatannya dalam skema manipulasi harga saham Deutsch Motors, sebuah dealer resmi BMW di Korea Selatan, yang berlangsung antara Oktober 2010 hingga Desember 2012.
Namun, majelis hakim tidak menemukan bukti keterlibatan langsung terdakwa dalam skema tersebut, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa terdakwa mengetahui rencana itu.
Di luar kasus hukum yang sedang berjalan, profil Kim Keon Hee sendiri telah lama menjadi sorotan media massa dan publik, bahkan sebelum suaminya terjun ke dunia politik dan memenangkan pemilihan presiden.
Berbeda dengan para ibu negara pendahulunya yang kerap berlatar belakang sebagai profesor, guru, atau aktivis sosial, Kim memiliki latar belakang sebagai seorang pengusaha.
Minatnya yang kuat pada seni, filsafat, dan kerap tampil bergaya unik di media, membuatnya mencuri perhatian publik dengan citra yang jauh dari kesan “pendukung yang tenang” ala ibu negara tradisional.
Ia menyelesaikan pendidikannya dengan mendapatkan gelar di bidang seni dari Universitas Wanita Sookmyung pada tahun 1999.
Namun, kariernya diwarnai skandal plagiarisme berulang kali selama masa studi. Akibat temuan panel etika yang menemukan masalah pada tesisnya, universitas akhirnya mencabut gelar akademisnya pada tahun 2025.
Sejauh ini, terdakwa tidak pernah memberikan bantuan atau sanggahan terbuka terkait persoalian pencabutan gelar tersebut.
Pada tahun 2009, ia mendirikan sebuah perusahaan perencanaan pameran seni bernama Covana Contents yang mengurasi berbagai pameran seni.
Namun, pada tahun 2019, media Korea Selatan melaporkan dugaan penghindaran pembayaran pajak dan penerimaan suap terkait penyelenggaraan pameran seni yang menjerat perusahaannya.
Meskipun Kim telah mundur dari jabatan CEO dan dibebaskan dari tuduhan tersebut pada tahun 2023, kejaksaan khusus saat ini sedang melakukan tinjauan ulang terhadap kasus tersebut.
Menjelang pemilihan presiden 2021, kredensialnya kembali dipertanyakan setelah muncul tuduhan bahwa ia mengajukan permohonan ke universitas dan perusahaan menggunakan kualifikasi serta penghargaan palsu.
Skandal ini memicu kemarahan publik, memaksa dirinya mengeluarkan permintaan maaf secara terbuka atas apa yang ia gambarkan sebagai “upaya membesar-besarkan” dalam daftar riwayat hidupnya. Ia pun berjanji jika suaminya terpilih, ia akan fokus sepenuhnya pada perannya sebagai istri presiden.
Namun, setelah suaminya dilantik, kegiatan resminya sebagai ibu negara terus menuai kritik tajam. Mulai dari tuduhan pelanggaran protokol luar negeri, penggunaan staf pribadi, hingga penerimaan barang-barang mewah selalu mengikutinya menjadi sorotan.
Contoh yang paling menonjol adalah debut diplomatiknya saat mendampingi Presiden Yoon ke KTT NATO di Madrid, Spanyol, pada Juni 2022.
Selama kunjungan tersebut, Kim melakukan berbagai kegiatan pribadi seperti mengunjungi museum seni lokal dan menonton pertunjukan flamenco tanpa pemberitahuan sebelumnya atau penjadwalan resmi, yang memicu perdebatan mengenai transparansi dan kesesuaian peran seorang ibu negara di panggung internasional.
Kemudian, sebuah video beredar menunjukkan Kim menerima tas mewah dari seseorang di sebuah kantor di Seoul pada September 2022.
Rekaman ini diserahkan kepada media pada akhir 2023, memicu gugatan dari kelompok masyarakat sipil terkait pelanggaran Undang-Undang Anti-Korupsi atau UU Kim Young-ran.
Meskipun Kim Keon Hee bukanlah mantan ibu negara pertama yang diperiksa kejaksaan—sebelumnya ada Lee Soon-ja (istri Chun Doo-hwan) yang diperiksa terkait dana politik, Kwon Yang-sook (istri Roh Moo-hyun) terkait skandal suap, dan Kim Yoon-ok (istri Lee Myung-bak) terkait pembelian tanah—namun ia adalah yang pertama divonis bersalah dan dipenjara. Kasusnya menandai babak baru dalam sejarah hukum Korea Selatan, di mana lingkaran dalam kekuasaan tidak lagi kebal terhadap jerat hukum.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

6 days ago
19














































