Menit.co.id – Film War Machine 2026 menjadi sorotan bagi para penggemar thriller aksi militer dan fiksi ilmiah di Netflix. Meskipun dunia nyata sedang penuh konflik, film ini menghadirkan perang yang berbeda — pertarungan antara pasukan manusia dan makhluk alien mekanis yang menakutkan. Alih-alih mengusung alien tradisional, makhluk di War Machine 2026 didesain menyerupai mesin militer futuristik dengan dengungan robotik khas, menciptakan nuansa unik yang membedakannya dari inspirasi film lain seperti Predator, Edge of Tomorrow, atau Battle: Los Angeles.
Keseluruhan visual film memberikan kesan agak generik, seperti spin-off Transformers dengan anggaran lebih rendah. Untungnya, War Machine 2026 terbebas dari filter abu-abu khas Netflix karena film ini adalah akuisisi Lionsgate. Berlokasi di Colorado tapi difilmkan di Australia oleh penulis-sutradara Patrick Hughes, film ini telah dirilis di bioskop lokal beberapa waktu lalu dan kini menjadi pemutaran streaming yang mudah diakses. Pilihan sempurna untuk menonton santai di malam Jumat sambil bersantai, tanpa gangguan.
Seandainya dirilis secara luas, film ini bisa menempatkan Alan Ritchson sebagai bintang aksi baru. Ritchson, yang terkenal lewat Reacher, tampil dengan tubuh kekar setinggi 190 cm dan persona yang berani. Di War Machine 2026, ia membawa campuran humor dan aksi, menjadi sosok yang cocok untuk “remix” Predator yang lebih konvensional. Aktor ini dikenal vokal tentang pandangannya terhadap politik, menambah dimensi unik pada karakternya yang tangguh di layar.
Ironisnya, sementara franchise Predator modern mencoba menghadirkan keragaman dengan pemeran utama perempuan atau berkulit berwarna, War Machine 2026 justru kembali ke formula klasik: protagonis laki-laki kulit putih dengan energi maskulin. Bahkan peran kecil Dennis Quaid, karakter yang berafiliasi politik dengan tokoh konservatif, menegaskan nuansa tradisional ini.
Film dibuka dengan adegan yang relatif mudah ditebak: Ritchson sebagai prajurit bernama 81 diterjunkan ke Afghanistan bersama adik laki-lakinya, diperankan Jai Courtney, yang kembali ke peran dasar setelah sukses memerankan penjahat di Dangerous Animals. Saat mereka berlatih di gurun yang berdebu, penonton sudah bisa menebak tragedi yang akan datang. Kini, 81 tampil sebagai sosok yang berjuang melawan kecanduan obat-obatan namun tetap bercita-cita menjadi pasukan khusus. Saat timnya, termasuk Stephan James dan Keiynan Lonsdale, diterjunkan ke hutan belantara, ancaman yang lebih jahat daripada militer AS mulai muncul.
Walau alur film cukup mudah ditebak, mulai dari asteroid jatuh hingga pertempuran klimaks, War Machine 2026 menonjol karena adegan aksi yang dipentaskan dengan baik. Hughes menghadirkan efek khusus besar yang terlihat meyakinkan, terutama di layar besar atau saat menonton dengan volume tinggi di rumah. Beberapa adegan memang terasa berulang, seperti menuruni tebing atau menyeberangi sungai saat alien muncul, namun tetap terjaga ritmenya. Aliennya sendiri terasa agak standar, bergantung pada teknologi “scan-target-destroy” yang familiar, tanpa memberikan kreativitas horor yang diharapkan.
Ritchson berperan sebagai karakter “dihantui” yang perjalanannya agak klise, dari ketenangan ke kekacauan mental. Meski demikian, ia berhasil mengeksekusi aksi fisik dengan baik, bahkan jika aspek emosional karakternya kurang bersinar. Secara keseluruhan, War Machine 2026 adalah tontonan cukup memadai untuk hiburan malam, meski tidak meninggalkan kesan mendalam untuk jangka panjang.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

9 hours ago
5

















































