Pesaing Lokal Menguat, Merek Besar AS Mulai Kehilangan Konsumen China

2 hours ago 2

RAKYAT MERDEKA — Persaingan bisnis di China semakin sulit bagi sejumlah perusahaan asal Amerika Serikat (AS). Merek yang sebelumnya menikmati pasar besar di negara tersebut kini harus menghadapi perubahan selera konsumen, munculnya pesaing lokal, hingga dampak ketegangan hubungan AS dan China.

China selama bertahun-tahun menjadi pasar penting bagi perusahaan global karena memiliki populasi lebih dari 1,4 miliar orang. Akan tetapi, besarnya jumlah konsumen tidak lagi otomatis menjamin keberhasilan merek asing.

Kepala Praktik Ritel Global Bain & Company Aaron Cheris mengatakan sejumlah perusahaan AS belum cukup cepat menyesuaikan diri dengan perubahan pasar China.

“China adalah pasar yang sangat besar. Angkanya begitu besar dan tumbuh begitu cepat sehingga semua merek ingin mencoba masuk ke sana. Namun, perusahaan-perusahaan tersebut belum menyesuaikan diri dengan pasar lokal serta perubahan struktur dan kebutuhannya,” kata Cheris kepada CNBC.

Tak hanya persoalan strategi, harga juga menjadi pertimbangan konsumen. Produk dari merek AS sering kali dibanderol lebih mahal, sementara perusahaan China mampu menawarkan produk dengan harga lebih kompetitif sekaligus melakukan inovasi dengan cepat.

“Premi harga untuk produk-produk Amerika sering kali tidak sepadan bagi konsumen China. Merek-merek China memiliki siklus inovasi yang cepat dan distribusi yang lebih baik di kawasan tersebut,” ujarnya.

Nike hingga Starbucks hadapi pesaing lokal

Nike menjadi salah satu merek AS yang merasakan tekanan cukup besar. Bisnis perusahaan di China menyusut sekitar 30 persen sejak 2021. Pendapatan tahunannya di pasar tersebut juga mencapai level terendah dalam delapan tahun pada musim semi 2026.

Penurunan tersebut terjadi ketika konsumen China semakin tertarik pada merek olahraga lokal. Dalam periode yang sama, industri pakaian olahraga China justru mengalami pertumbuhan lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir.

Persaingan serupa terjadi di industri makanan dan minuman. Starbucks, yang telah beroperasi di China daratan sejak 1999, kini harus berhadapan dengan ekspansi pesat Luckin Coffee.

Bahkan, jumlah gerai Luckin Coffee di China sudah mencapai lebih dari tiga kali jumlah gerai Starbucks. Harga yang lebih murah juga menjadi salah satu daya tarik bagi konsumen lokal.

Tekanan juga dirasakan industri otomotif. Pangsa pasar tiga produsen besar Detroit, yakni General Motors (GM), Ford Motor, dan Chrysler, turun dari 21,4 persen pada 2019 menjadi sekitar 15,7 persen pada 2025 berdasarkan data S&P Global Mobility.

GM bahkan mengalami perubahan besar dalam kinerja bisnisnya di China. Pendapatan yang sebelumnya mencapai sekitar US$2 miliar per tahun pada 2018 berbalik menjadi kerugian selama dua tahun berturut-turut pada 2024 dan 2025.

Ford juga menghadapi penurunan penjualan. Penjualan perusahaan di China turun 32,4 persen sepanjang 2018 hingga 2022. Perusahaan kemudian mulai mengalihkan lebih banyak kegiatan produksi dan penjualan ke AS, termasuk rencana memindahkan produksi model Lincoln dari China ke AS mulai 2030.

Tidak semua merek AS gagal di China

Meski sejumlah perusahaan besar mengalami tekanan, kondisi tersebut tidak berlaku bagi seluruh merek asal AS.

Lululemon, Ralph Lauren, dan Kentucky Fried Chicken (KFC) masih mampu mempertahankan kinerja positif di China. Salah satu faktor yang membedakan mereka adalah kemampuan menyesuaikan strategi dengan karakteristik konsumen setempat.

Menurut Cheris, perusahaan asing yang ingin bertahan di China harus membangun kemampuan lokal dan tidak hanya mengandalkan strategi yang telah digunakan di pasar global.

“Kuncinya adalah merek mana yang cukup serius dan benar-benar membangun kemampuan lokal yang memadai, bukan sekadar membawa apa yang telah mereka bangun secara global lalu mencoba menjualnya kepada konsumen China,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ukuran pasar China yang sangat besar bukan lagi satu-satunya modal bagi merek asing. Perusahaan juga harus memahami perubahan perilaku konsumen, menawarkan harga yang kompetitif, mempercepat inovasi, serta menyesuaikan produk dengan kebutuhan masyarakat lokal.

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |