ANALISA INDONESIA – Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) akan menggelar rangkaian Anugerah Pendidikan Tinggi 2026. Kegiatan ini diselenggarakan pada Selasa, 10 Maret 2026 di Kampus B Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA).
Anugerah LPTNU ini terdiri atas beberapa kategori seperti kategori ilmuwan muslim berpengaruh dalam bidang kedokteran, sains terapan, teknologi, ekonomi dan lingkungan hidup; Kategori pengabdi sepanjang hayat bagi tokoh NU yang berkontribusi terhadap pendidikan tinggi dalam proses kebijakan, filantropi dan pembangunan infrastruktur. Juga terdapat kategori Dosen dengan Karya Ilmiah dalam bidang Saintek, Sosial Humaniora, Ilmu Agama dan Karya Kemasyarakatan dengan total 18 bidang ilmu; Kategori Tenaga Kependidikan terbaik dengan bidang layanan dan pengabdian; Kategori Lembaga/Pusat Studi terbaik dalam bidang inovasi, kerjasama dan pembangunan komunitas; dan Kategori Mahasiswa berprestasi dengan kategori akademik, olahraga, keagamaan dan Duta PTNU.
Sesi Seminar
Kegiatan ini juga diisi seminar untuk merumuskan rekomendasi arah pendidikan tinggi NU dalam 15 tahun ke depan. Seminar akan diikuti oleh semua pimpinan PTNU dengan 6 rektor sebagai penyaji utama yang terdiri dari sesi Pembaruan Kurikulum dan Metode Pembelajaran akan diisi oleh Prof. Dr Fatkul Anam (UNU Sidoarjo), Prof. Dr Junadi Mistar (Unisma Malang), Prof. Dr Muammar Bakry (UIM Makasar) dan dimoderatori oleh Dr. Baiq Mulianah (UNU NTB).
Pada sesi membangun ekosistem riset dan inovasi menghadirkan pembicara Prof.Dr.Helmy Purwanto (Unwahas Semarang), Prof. Dr. Tri Yogi Yuwono (UNUSA Surabaya), Prof. Dr Hamdani (UNU Kaltim) dengan Dr. Ali Formen sebagai moderator. Seluruh pimpinan PTNU akan memberikan tanggapan secara tertulis yang dikompilasi dan dibahas dalam sesi rekomendasi yang dipimpin oleh Dr. Abu Amar Bustomi (UNU Pasuruan).
“Tujuan penyelenggaraan kegiatan ini ada dua yaitu, pertama, memastikan bahwa PTNU memiliki tingkat respon dan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan. Pendidikan tinggi memiliki persoalan yang kompleks sehingga perlu diurai lalu secara simultan mempersiapkan berbagai skenario dan perencanaan untuk menjawabnya.”
“Kedua, anugerah pendidikan tinggi adalah bagian dari apresiasi yang dilakukan oleh LPTNU terhadap kinerja dan capaian dari sivitas akademikanya. Diharapkan bisa memberikan kebanggaan dan motivasi terhadap yang lain agar senantiasa memberikan kontribusi terbaik terhadap lembaga,” jelas Ketua LPTNU, Prof. Dr. H. Ainun Na’im.
Acara seminar dibuka dengan pemaparan Prof. Dr. M Nuh sebagai Keynote Speaker. “Beliau akan menyampaikan topik mendefinisikan tantangan Perguruan Tinggi dalam 10 tahun kedepan dan peran PTNU di dalamnya,” jelas Ketua Panitia Seminar, Dr Abu Amar Bustomi.
Seminar ini berangkat dari dinamika global dunia pendidikan menuntut sebuah reorientasi fundamental terhadap peran institusi akademik dalam ekosistem kehidupan berbangsa. Seiring dengan percepatan disrupsi teknologi yang ditandai oleh integrasi kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif, transformasi sosial yang dinamis, serta kompleksitas geopolitik. Institusi pendidikan tinggi saat ini memikul mandat untuk menjadi motor penggerak yang adaptif, kolaboratif, dan mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan kebangsaan yang semakin kompleks. Semua pimpinan PTNU memberikan pandangan secara tertulis dan memberikan umpan balik dalam diskusi panel di mana semua hasilnya akan dirumuskan oleh LPTNU menjadi rekomendasi kepada PBNU.
Anugerah LPTNU
Secara terpisah, Sekretaris LPTNU Dr. H.M. Faishal Aminuddin menjelaskan bahwa anugerah LPTNU ini menjadi pengakuan bersama atas segala daya, upaya, ketekunan dan capaian sivitas akademika yang senantiasa berkhidmat dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kontribusi terhadap masyarakat dan kemandirian jam’iyyah..
Ketua Tim Juri, Prof. Dr Fatkul Anam memaparkan bahwa proses penjurian dilakukan oleh tim panel juri dengan cara berjenjang di mana sumber data utama berasal dari penambangan data yang dilakukan oleh tim LPTNU dan nominasi usulan dari PTNU. Semua data yang masuk diverifikasi, diberikan penilaian dan diusulkan sampai kandidat tiga besar. Setiap kategori yang berisi tiga kandidat akan diputuskan dalam rapat pleno untuk diputuskan siapa yang mendapatkan penghargaan.
“Tim dari LPTNU sudah bekerja mengumpulkan data sejak awal bulan Januari 2026. Kami benar-benar menjaga integritas dalam semua proses penilaian. Kehati-hatian dan kerahasiaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penilaian yang diberikan,” jelas Prof. Dr Fatkul Anam.
“Sekalipun misalnya, ada rektor PTNU yang kebetulan menjadi Ketua Tim Panel Kategori, tidak bisa begitu saja memasukkan calon dari kampusnya sebagai kandidat 3 besar. Bahkan dia harus legowo, seandainya tidak ada satupun nominasi dari kampusnya tidak masuk kriteria,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia Malam Anugerah LPTNU, Dr. Mustadin menyampaikan bahwa perhelatan yang digelar setelah shalat tarawih tersebut akan dihadiri oleh 200 undangan dari PTNU dan 100 undangan dari perwakilan pengurus NU dan Banom serta undangan dari lembaga lainnya.
Dia menambahkan bahwa yang diumumkan profil peraih anugerah LPTNU bisa dibagi sesuai dengan jenis penghargaannya yang terdiri dari Plakat emas diberikan kepada kategori Ilmuwan Muslim berpengaruh dan Pengabdian Sepanjang Hayat. Lalu untuk Plakat perak diberikan kepada Kategori Dosen dengan Karya Ilmiah dan Karya Kemasyarakatan. Terakhir Plakat Perunggu untuk kategori Tenaga Kependidikan dan Pusat Studi Terbaik. Adapun untuk mahasiswa terdapat medali bintang emas untuk Duta PTNU pertama, perak untuk kedua dan perunggu untuk ketiga. Sedangkan untuk kategori prestasi mahasiswa akan diberikan medali.
“Selain kategori penghargaan terdapat tambahan penghargaan lain-lain yang lebih bersifat apresiasi daripada kompetisi,” jelasnya.
“Ini adalah upaya membangun ekosistem akademik bukan sekedar seremonial penghargaan-penghargaan semata, semoga ke depan akademisi-akademisi mumpuni terus lahir dari rahim Nahdlatul Ulama,” pungkas Mustadin.

12 hours ago
4

































