Menit.co.id – Investor pasar modal Ellen May kembali menjadi sorotan setelah melakukan aksi akumulasi pembelian saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) pada Selasa (14/4/2026). Keputusan ini didasarkan pada penilaian bahwa valuasi emiten perbankan pelat merah tersebut sudah berada pada level yang dianggap murah untuk strategi investasi jangka panjang.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat tren masuknya investor ritel besar ke saham BBRI. Sebelumnya, nama Lo Kheng Hong sudah lebih dulu mencuat setelah melakukan aksi serupa dan dikenal konsisten mengoleksi saham berbasis fundamental kuat di pasar modal Indonesia. Kehadiran investor besar ini menambah sentimen positif di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi akibat tekanan eksternal global dan dinamika geopolitik internasional.
Alasan utama di balik keputusan pembelian tersebut adalah penurunan rasio harga terhadap nilai buku atau Price to Book Value (PBV) BBRI yang dinilai semakin atraktif. Berdasarkan data UBS, PBV BBRI pada 2025 berada di level 1,8 kali, lebih rendah dibandingkan 2,4 kali pada 2024 dan 2,5 kali pada 2023. Kondisi ini dianggap mencerminkan pelemahan harga yang membuka peluang bagi investor jangka panjang.
Ellen May menegaskan bahwa faktor valuasi murah serta potensi dividen yang tinggi menjadi pertimbangan utama dalam mengambil posisi. Ia menyebut kondisi saat ini sebagai momentum yang menarik untuk akumulasi pada saham perbankan besar yang memiliki fundamental kuat.
Di sisi lain, data laporan kepemilikan menunjukkan bahwa Lo Kheng Hong tercatat memiliki 64,64 juta lembar saham BBRI per Maret 2025. Dengan asumsi harga sekitar Rp3.710 per saham, nilai investasinya diperkirakan mencapai Rp239,79 miliar. Hal ini mempertegas reputasinya sebagai investor yang fokus pada strategi jangka panjang berbasis nilai.
Sektor perbankan sendiri masih menjadi salah satu penopang utama kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia, sehingga pergerakan sahamnya kerap menjadi indikator penting stabilitas pasar. Dalam kondisi ketidakpastian global, minat terhadap saham blue chip dengan dividen konsisten tetap terjaga di kalangan investor.
Menariknya, keterlibatan nama Lo Kheng Hong dalam akumulasi BBRI juga turut memperkuat persepsi pasar terhadap daya tarik saham tersebut. Bahkan, Lo Kheng Hong kembali menjadi referensi utama bagi investor ritel dalam membaca peluang investasi berbasis fundamental di tengah volatilitas pasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

7 hours ago
2
















































