Kontroversi Perayaan Juara PSV Eindhoven, Ryan Flamingo Jadi Sorotan

12 hours ago 5
Ryan Flamingo

Menit.co.id – PSV Eindhoven baru-baru ini menjadi sorotan setelah insiden yang melibatkan pemainnya, Ryan Flamingo, saat perayaan gelar juara Eredivisie di Stadhuisplein, Eindhoven.

Kejadian ini terjadi pada 8 April 2026, sehari setelah klub secara resmi dinobatkan sebagai juara liga, dan memicu perbincangan luas terkait perilaku pemain dan sejarah klub.

Dalam perayaan tersebut, Ryan Flamingo terlihat menyanyikan lagu kontroversial “Siapa yang tidak melompat adalah orang Yahudi” dari podium.

Tindakan ini langsung diikuti oleh para penggemar yang hadir di lokasi. Flamingo beberapa kali mengulang frasa tersebut sebelum akhirnya ditarik dari mikrofon, dan DJ La Fuente melanjutkan acara dengan memutar musik.

PSV Eindhoven segera mengeluarkan pernyataan resmi, menyebut tindakan Flamingo sebagai “ceroboh” dan tidak pantas.

Klub menegaskan bahwa sang pemain telah menyampaikan permohonan maaf secara internal.

Juru bicara klub menyatakan kepada Omroep Brabant, “Kami tidak ingin pendukung kami menyanyikan lagu-lagu semacam ini di stadion, dan pemain juga tidak boleh melakukannya. Bagaimanapun, pemain memiliki fungsi sebagai teladan.”

Meski PSV menegaskan tidak ada niat antisemitik di balik tindakan Ryan Flamingo, insiden ini tetap memicu diskusi mengenai sejarah Yahudi yang terkait dengan klub.

PSV sendiri memiliki sejarah panjang yang menyentuh berbagai komunitas, termasuk anggota Yahudi yang pernah menjadi bagian dari klub.

Menurut buku karya Joris Kaper, setidaknya tujuh belas mantan anggota PSV kehilangan nyawa selama Perang Dunia II.

Di antaranya adalah Salomon Hertzberger, pemain tim utama PSV dari 1921 hingga 1927, yang meninggal di Auschwitz pada 28 Februari 1943.

Selain itu, Ignacz Klein, mantan pelatih kepala PSV pada musim 1927-1928, beserta putranya Mör Klein, yang juga terlibat dalam tim junior, meninggal di kamp yang sama pada 31 Januari 1943.

Alexander Rijskind, seorang pengungsi Yahudi dari Uni Soviet yang bergabung dengan PSV pada 1939, juga tewas di Auschwitz pada tanggal yang sama.

Emanuel Wijzenbeek, pemain PSV yang bekerja untuk Philips dan aktif dalam gerakan perlawanan, meninggal di kamp pada 15 Mei 1944.

Sejarah ini menjadi pengingat akan keberagaman dan warisan klub yang kaya. Philips, sebagai pendiri dan pengelola awal PSV, merekrut pekerja dari berbagai latar belakang, termasuk yang berbeda agama, sehingga klub memiliki akar sejarah yang kompleks dan multikultural.

Insiden yang melibatkan Ryan Flamingo ini juga terjadi di tengah perayaan yang diwarnai kerusuhan ringan.

Polisi mencatat 17 penangkapan selama acara karena berbagai pelanggaran, termasuk penyalaan kembang api ilegal, perusakan, penghinaan, dan penyerangan. Tahun sebelumnya, 22 orang sempat ditahan setelah konfrontasi dengan aparat.

Meskipun larangan penggunaan kembang api sudah diberlakukan tahun ini menyusul insiden cedera tahun lalu, seorang pria tetap mengalami luka ringan di kakinya akibat kembang api yang jatuh ke kerumunan di Rechtsestraat.

Diperkirakan lebih dari 70.000 orang memadati pusat kota Eindhoven untuk merayakan gelar juara PSV, menciptakan suasana yang semarak sekaligus berisiko tinggi.

Klub kini menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan perayaan kemenangan dengan tanggung jawab sosial.

Tindakan Ryan Flamingo menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa pemain memiliki peran sebagai teladan, dan kata-kata yang tidak pantas dapat memicu kontroversi besar.

Pengamat sepak bola dan sejarah olahraga menekankan pentingnya edukasi bagi pemain muda terkait konteks sejarah, terutama sejarah tragis anggota klub selama Perang Dunia II.

Kesalahan yang dilakukan Ryan Flamingo diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi klub dan masyarakat luas tentang sensitivitas budaya dan sejarah.

Sebagai respons, PSV Eindhoven menegaskan akan memperketat aturan perilaku pemain di publik dan memperluas program edukasi untuk seluruh staf dan pemain.

Langkah ini dimaksudkan agar sejarah klub yang kaya dan tragis tetap dihormati, sekaligus memastikan bahwa momen perayaan tidak menimbulkan kontroversi yang merugikan citra klub.

Dengan kejadian ini, nama Ryan Flamingo tidak hanya dikenal karena kiprahnya di lapangan, tetapi juga karena kontroversi yang memunculkan diskusi lebih luas mengenai tanggung jawab sosial pemain dan warisan sejarah klub.

PSV diharapkan mampu menyeimbangkan antara merayakan prestasi olahraga dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan serta sejarah yang melekat pada klub.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |